Skygge Siden

/
0 Comments



Sebuah kafe kecil di sudut jalan perbelanjaan menjadi pilihan nya untuk menikmati hari itu. Suara lonceng terdengar saat pintu terbuka. Para pelayan menyambut nya masuk. Dia menempati tempat yang selalu dia duduki. Di meja kecil dengan sofa untuk dua orang disebelah jendela, Dia bias melihat semua orang yang lalu lalang di luar. Jam di lengan kanan nya Dia lirik. Masih sekitar setengah jam dengan waktu perjanjian.
                “Nona, apa nona sudah siap memesan?” kata seorang pelayan pria yang sudah biasa di lihat gadis itu.
                “ooh tentu. Seperti biasa yang aku pesan ya? Tapi gula nya tolong dikurangi sedikit” Gadis itu berkata sambil mengeluarkan buku kecil dari tas nya. Beserta beberapa pensil dan sebuah penghapus.
                “baik nona, silahkan tunggu sebentar” pelayan itu pergi. Suasana tempat ini selalu nyaman. Tidak terlalu ramai, wangi kopi yang beraneka ragam, dan tentunya rasa kopi yang sangat sesuai dengan cita rasa gadis itu membuat Dia senang datang kemari setiap saat sebelum ada pertemuan atau aktifitas menunggu nya. Pesanan nya datang dengan cepat. Diletakan disudut meja, membiarkan aroma nya terbang ke penjuru ruangan. Sambil menunggu waktu berlalu gadis itu menorehkan coretan coretan pada buku kecil nya. Melatih tangan nya walau di akhir pekan.
                Sesaat gadis itu berkonsentrasi pada buku kecilnya, sesorang melewati kaca kafe itu dan bayangan nya membuat sang gadis menoleh kea rah luar jendela. Dia tahu punggung pria itu, dia tahu aura pria itu, dia tahu wajah, hidung, cara berjalan…..dia tahu pria itu..pria yang bayangan nya menemukan gadis itu. Pria itu terus berjalan, dia tidak sadar akan adanya gadis itu.
                Sang gadis terkesiap, meneguk kopi yang mulai hangat hanya setengah gelas, mencari selembar uang di saku dan menaruh nya di meja dengan cepat, memasukan semua barang nya tanpa ditata, “uang nya kutinggal di meja!” menarik jaket yang ada dikursi, berdiri dan hamper terpeleset tapi dia terus belari menuju pintu. “nona kembalian nya?” kata sang pelayang saat dia sudah ada di depan pintu dan siap berlari. “ambil saja!!” Suara lonceng pintu kembali berbunyi untuk kedua kali oleh gadis itu di pagi hari ini.
                Gadis itu berlari menuju arah si pria itu pergi. Mencari di balik kerumunan. “permisi!!” dia menyalip orang-orang di depan nya. Hingga punggung pria itu terlihat. Lalu pria itu berhenti di dekat sebuah dinding toko pakaian, saat melihat wajah pria itu, sang gadis yakin pria yang dicari dan ditunggu telah tiba.
*****
Di sebuah ruang kelas dan penuh dengan suara teman temannya yang berisik. Sebentar lagi kelas akan dimulai tapi beberapa tugas kecil belum gadis itu kerjakan
                “aku pinjam ini yaa?” kata gadis itu pada seorang temannya. Saat temannya sudah mengijinkan sang gadis meminjam catatan dari teman nya tiba tiba ada suara kecil “eee… hei!” sang gadis menoleh sedikit tapi dia tidak mengetahui siapa yang memanggilnya. Hingga akhirnya dia berpaling begitu saja. Anak laki laki manis bersembunyi di balik tundukan nya setelah melihat sang gadis menoleh. Teman teman disekitar anak laki laki itu hanya tersenyum usil pada nya.
                Seorang guru mulai memanggil nama murid baru nya satu persatu. Ada sebuah nama yang membuat sang gadis ingin tahu siapa yang memiliki nama yang sangat mudah dan biasa itu. Seorang anak laki laki manis berdiri di meja paling belakang. Membuat rasa terkesan yang membekas.
                Sepulang sekolah saat sang gadis sudah bersiap untuk pulang, anak laki laki manis itu mendekati bangku nya. “mmm itu…eeee ituu..aku mau tanya sasuatu tentang pelajaran tadi, boleh minta nomor untuk dihubungi?” tanpa sadar wajah gadis itu merah dan dia tertunduk malu, teman sebangku nya mulai tersenyum usil. Sang gadis segera mengeluarkan secarik kertas dari buku kecil nya, menuliskan kan serangkaian nomor dan meninggalkan nya dimeja dengan segera. “aku duluan” dia hanya tersenyum sebentar dengan wajah merah nya dan berlari keluar kelas. Dia tersenyum lebar, menantikkan apa yang akan terjadi.
                Anak laki laki itu lebih kecil daripada sang gadis sehingga membuat sang gadis sering usil padanya. Mereka mengejek satu sama lain, bertengkar, berbaikan, bercerita satu sama lainnya. Pulang bersama dan meninggalkan teman lainnya menaiki bus dan tertawa melihat temannya yang berusaha mengejar bus yang mereka naiki.
                Mereka sampai peada sebuah tempat dimana sang gadis, anak laki laki dan semua teman temannya berkumpul. Mereka dikejar mengililingi tempat itu karena meninggalkan teman teman lainnya. Mereka semua berlari….berlari kesana kemari hingga teman temannya kewalahan dan tak mengejar lagi “aaaa sudah ah kalian berdua itu pasangan yang terlalu enerjik!!” sang gadis yang malu menjatuhkan diri di sebuah bangku taman begitu pula dengan sang anak laki laki. Mereka berdua terdiam tapi saling melihat satu sama lain. Melihat muka mereka yang lelah, berkeringat, dan memerah entah karena malu atau berlari entah berapa lama membuat mereka berdua tertawa. Tawa yang tak bisa dilupakan.
*****
Gadis itu ingat semua detil saat mereka pertama bertemu. Anak laki laki itu sedh tidak kecil dan manis namu sudah menjadi seorang pria yang gagah di matanya. Dia berusaha menghampiri sang pria dengan perlahan tapi langkah nya terhenti. Gadis itu teringat sesuatu. Waktu dimana mereka berdua tak berbicara lagi. Tidak saling menatap mata…tidak, saling menatap wajah sekilas pun tidak pernah lagi.
                Sebuah lorong sekolah sang Gadis melihat anak laki laki itu semakin berubah. Mereka yang sudah tidak di satu kelas lagi tidak pernah saling berbicara kembali. Sekedar bertukar senyum pun tidak, mereka saling melewati dengan grup pertemanan yang berbeda. Sang gadis berusaha dengan keras tetap ceria, jadi kalau sang anak laki laki itu terlihat menoleh padanya dari pelupuk matanya dia sudah tersenyum. Tapi tidak…sang anak laki laki bahkan tidak menoleh sedikit pun. Sang gadis terhenti sekejap dari langkah nya, ingin memanggil nama anak laki laki itu yang sudah ada di ujung lidah nya selama berbulan bulan…tapi dia hentikan. Seorang teman nya mengetahui bahwa sang gadis menghentikan langkah nya..dan memanggilnya “ayo cepat! Nanti kelas keburu mulai” sang gadis langsung menoleh dan tersenyum kembali dengan lebar. “iya sabar!”
                Pria itu mulai berjalan di depan sang gadis. Dia memngingat satu hal lagi. Di dalam kelas itu..dia berteriak karena malu..”aku gak suka kamu kok!” sang gadis kaget dengan kata yang keluar dari mulunya sendiri. Meninggalkan keheningan sesaat di kelas. Membuat anak laki laki marah dan melemparkan sesuatu dan dia pergi keluar kelas. Anak anak lain melanjutkan keisengan mereka “bohong ah bohooong, kalo iya bilag ajaa” keributan itu memudar dan berganti kembali dengan keributan kerumuna pejalan kaki di depan gadis itu di daerah pertokoan ini.
                Kerumunan yang lewati sang gadis terus menerus dan dia hanya terdiam melihat punggung sang pria seperti saatu itu. Saat wisuda kelulusan mereka, dimana sang gadis hanya bisa melihat punggung anak laki laki yang sudah mulai tegap, lebar, dan gagah melewati kerumunan anak anak peserta wisuda lainnya menuju gerbang keluar sekolah. Sang gadis masih diam, berharap sang anak laki laki akan menoleh dan menyapanya seperti dulu. Namu tidak. Dia terus berjalan sama seperti saat ini anak laki laki yang sekarang sudah menjadi pria yang dia kagumi sang gadis bertahun tahun tetap tak menoleh padanya.
                Namun langkah sang laki laki terhenti. Kerumunan di depan sang gadis memudar sebentar…tepat disaat seorang wanita menarik tangan sang pria. Tersenyum kepada sang pria dan sang pria membalas senyum sang wanita itu dengan manis…senyum yang ditunggu tunggu sang gadis tahunan lamanya sudah menjadi milik wanita lain.. sang gadis membatu disitu. Kembali menundukkan kepalanya dan berusaha tenggelam di balik kerumunan. Tapi dia terus berjalan kedepan dan berusaha melihat wajah bahagia  orang lain itu walau sesuatu hendak meluap dari dada dan matanya.
                Sang pria dan wanita itu berbalik arah dan berjalan menghadap sang gadis. Sang gadi berusaha dengan keras tersenyum seperti di lorong sekolah dulu. Jadi bila tiba tiba sang pria menyapa nya sang gadis sedang tersenyum. Tapi tidak sang pria tak menyapa nya. Rasanya pahit tapi sang gadis tetap berusaha tersenyum,
                “hei..!!” sang gadis terhenti dari langkah nya. Menarik nafas dan berusaha tersenyum sambil menoleh
                “hei juga!!” dengan senyum yang lebar dia melambaikan tangan nya. “cieee” dengan senyum usil yang biasa dia lakukan saat semasa sekolah dulu dia melirik anatar sang pria dan wanita itu. Wajah sang pria dan  wanita itu memerah. Dan sesaat itu sang gadis itu tahu bahwa benar benar tak ada tempat untuknya dihati sang pria yang sedang barbahagia itu. “eeemmm” sang gadis sudah tak bisa menahan senyumnya lagi “aku duluan ya sudah ada janji, daaaah” sang gadis membalik badan nya dengan berlari diantara kerumunan.
                Dia terus berlari dan tak ada yang mengejarnya. Dia berlari sendiri dan tak ada yang berlari bersamanya seperti dulu. di kerumunan yang ramai ini dia sendiri berlari…berlari dari masa lalunya dan tak menoleh. Tapi nafas nya habis, rasanya ada yang mengganjal nafas nya, dia terduduk di sudut jalan, ada yang meleleh di balik kelopak matanya, ada rasa sakit yang keluar dari dadanya.
                “oii..! kamu ngapain nangis disini?” suara dari balik punggung nya, dia menghapus air matanya. Gadis ini tahu siapa saja yang mendekatinya. Berkata tanpa nada simpati tapi penuh perhatian di baliknya
                “dia bĂȘte tuh nunggu kita kelamaan, apa nyasar? Masa nyasar disini sih?” suara usil yang terdengar tapi tidak membuat jengkel kali ini.
                Aku….oh iya gadis itu adalah aku..membasuh mata ini. Mencoba tersenyum berbalik ke arah mereka yang berdiri membelakangi matahari dan bayangan nya menutupi pandanganku
                “eh…kalian tahu ga tadi aku ketemu siapa?” dengan perasaan yang lebih ringan aku melihat mereka semua.
                “haaaah? Siapa” kata seorang anak perempuan yang langsung menggandeng tanganku untuk berdiri.
                “hmmm siapa yaaa~~~” jawabku usil. “TUHKAN GA PENTING” mereka berteriak bersamaan, dan membuat perasaan ku semakin ringan. Walau pria itu tak di sebelahku. Walau bayangan nya yang menyapaku lebih dulu. Tapi disini ada mereka lebih berharga dari pria itu. Karena bayangan mereka menyapaku bersama dengan pemiliknya.


Source picturee: 9gag/Ao Haru Ride fans picture


You may also like

Tidak ada komentar:

Mengenai Saya

Foto saya
Since 1996 Delusional
Tasa Sri Inten Puspitasari. Diberdayakan oleh Blogger.

Followers

Berbagi lah disini

Pengikut