Mungkin bodoh rasanya saat ini. Sudah berbulan bulan berlalu sejak hubungan kerja tempat dimana Meisy berakhir. Horisa melanjutkan sekolahnya seperti biasa kembali... Dasa mendapatkan ijazah kelulusannya sebulan lalu. Acara makan makan sederhana hari itu lah yang menyenangkan berubah menjadi menyebalkan sekaligus.

Ditengah acara pesta aku mulai merasakan perasaan yang menyebalkan. Ku usap dadaku dan menarik nafas panjang. Malam minggu walau single tetep menyenangkan kok. Walau diantara 7 orang ini yang tak membawa pasangannya hanya aku seorang. 

Meratapi kopi yang kupesan dari tadi. Mungkin dengan kopi pikirannku bisa sedikit tenang. "Napa lu?" Potong Dasa merasuki lamunan dan membuyarkan pemikiran gila ku.
"Ga.. envy aja dama lu pada"

"aaaah~ guys ada yang galau niiiih" Seru Horisa yang ternyata menguping di tengah mesranya Dia dengan kekasihnya. Dasar perempuan.

"Oke, to the point aja... Uah berbulan bulan. Lepasik Ra.. Lepasin!" Dasa meniupkan kan asap rokoknya di depanku "Seperti itu~"

"Terserah lo deh" Aku kembali meratapi meja yang kosong karena pesanananku belum datang juga. "uuuiiiiik!!" Suara HP ku yang bernada angry bird itu menarik perhatian pengunjung lainnya. Aku mebuka kunci dan melihat pesan itu dari siapa. Meisy.

"kak? di cafe Panna?" lalu ku balas. "Kok Tau?"  ku hisap rokok ku perlahan. Bunyi dering HP ku menarik perhatian orang oarang kembali. "Rada di silent bisa kali Gera...." Keluh Horisa.
"Nanti aja deh" Kataku sambil mengibaskan tanganku.

"Aku juga ada disitu. Coba liat meja no 20 deh" Aku menengok ke belakang. Ada 4 orang anak dari kelas yang kulatih dulu. Ah....... Rasanya sesak amat parah melebihi dari saat pertama kali aku menghisap roko dulu. Tangan kanan Meisy memegang HP tapi tangan kirinya tergantung di bawah menggandeng tangan seorang anak laki laki sebayanya. Aku kenal.

"hmm Ra... aduuh udah liat ya.." Cela Dasa. Ternyata yang dapet sms itu bukan aku saja. Tapi begitu juga Horisa dan Dasa. 

"ya gitu deh. Gue balik ya......"
"Jangan! cancel pesenan lo. Aku abisin minum kita rame rame yuk ke mana? " Tanya Horisa. "ya ga Guys?"
Kami menghabiskan semua pesanan. Aku sengaja lewat tempat duduk Meisy hanya untuk bertegur sapa.

"Kok cepet sih kak?" Tanya Meisy.
"Euuuumm, mau main lagi. Bocah ga boleh ikut!" Kataku menyentaknya. Karena biasanya mereka selalu memaksa ikut. Dengan tawa yang juga mengiringi perkataanku sehingga tidak berat di bawanya. Ku elus kepalanya. "Yo nanti ya kalo main lagi bareng bareng pas siang aja. Oke?" 

Ku lepaskan tanganku dari tangan nya dengan harapan sisa perasaan sakitku tertinggal disana semua. Begitu juga dengan bahagia yang menyengat hati waktu dulu.

Menemani ku berteriak di cafe di daerah tinggi, billiard, bowling, dan beberapa gelas cocktail manis. Teman temannku ini memang jahat punya jahat meninggalkanku, tapi tak pernah jahat meninggalkan ku sendiri di saat suram.

Persahabatan dan Pertemanan tak bisa di gantikan dengan Cinta, tapi Cinta bisa di ganti oleh mereka. 


(Diary ku selesai disini. Kalo Aku menulis Kembali diary ku, berarti aku tlah jatuh cinta kembali. Doakan saja yaaa =)) hahah) 
Tiap detik, tiap tapakan kaki yang membekas di tanah hari berlalu begitu saja. Tak terasa. Bukan karena bahagia yang membuat ku terbang ke langit seperti biasanya. Tapi malah perasaan kelabu yang membuat pikiranku tertinggal entah dimana.

Rasanya sudah seperti tong sampah dimana semua kata manis mu di buang. Bukan karena memang dari hatimu, tapi butuhmu.

Aku mengikuti semua permainan konyol. Permainan untuk menundukan hati yang keras ini. Otakku terlalu pintar untuk menolak semua bujuk halus darimu. Menyenangkan ternyata mengikuti semua permainan itu. Karena kita memang memiliki sifat yang sama. Tapi otakku terlalu pintar untuk jujur seperti yang kau lakukan saat itu.

Hatiku memang lebih bodoh. Tanpa sadar semua kata kata mu jadi kebiasaan yang harus diterimannya di pagi hari. Percakapan lelucon gombal konyol yang selalu kita laksanakan penuh tawa yang terbahak bahak. Otakku tahu bahwa itu bukan dari hatimu yang sejujurnya, tapi hatiku ini tak mau tahu.

Otakmu juga pintar, hingga tahu dimana saat hatiku luluh. Tapi saat itu juga kau ambil keputusan sepihak yang bisa kujelaskan harusnya. Bukannya Kau tak mau dengar, tapi Kau sudah tahu dan ingin mengabaikan itu.

Otakku berkata pada sang hati "Belum terlalu sakit 'kan? Masih bisa ditahan 'kan? Jangan buat tuan kita mengelurakan air mata. Kita sudah tahu apa jadinya. Tapi memang pertahananmu selalu longgar"
Hatiku hanya diam. Dia menyusun barikade nya kembali. Memperkuat kembali pertahanannya. Meminta pada otakku untuk membantu nya lagi.

"Komitmen kita agar tidak terlalu percaya Orang Itu. Tapi kebiasaan memang susah di hapus. Bentuk kembali dirimu. Pancarkan lagi pesonamu. Kita bawa Dia agar jatuh di pertahanan ini. Tapi sebelum itu Kau harus pulih. Hanya luka kecil. Luka parah saja bisa sembuhkan 'kan? Aku akan selalu memperkuatmu. Selalu berusaha sadar aga tak ada maling masuk mencuri kamu."

Hatiku tersenyum lebar. "Kita pasangan sempurna 'kan?" Iya mereka pasangan sempurna. Otakku dan Hatiku. Aku takkan membiarkan hatiku terluka dan otakku tahu itu. Dia tidak akan mematikan logikanya. Karena mendapat penghuni yang sepmpurna dilihat oleh Logika dan Nurani. 

Mengenai Saya

Foto saya
Since 1996 Delusional
Tasa Sri Inten Puspitasari. Diberdayakan oleh Blogger.

Followers

Berbagi lah disini

Pengikut