Pasangan Sempurna

/
0 Comments
Tiap detik, tiap tapakan kaki yang membekas di tanah hari berlalu begitu saja. Tak terasa. Bukan karena bahagia yang membuat ku terbang ke langit seperti biasanya. Tapi malah perasaan kelabu yang membuat pikiranku tertinggal entah dimana.

Rasanya sudah seperti tong sampah dimana semua kata manis mu di buang. Bukan karena memang dari hatimu, tapi butuhmu.

Aku mengikuti semua permainan konyol. Permainan untuk menundukan hati yang keras ini. Otakku terlalu pintar untuk menolak semua bujuk halus darimu. Menyenangkan ternyata mengikuti semua permainan itu. Karena kita memang memiliki sifat yang sama. Tapi otakku terlalu pintar untuk jujur seperti yang kau lakukan saat itu.

Hatiku memang lebih bodoh. Tanpa sadar semua kata kata mu jadi kebiasaan yang harus diterimannya di pagi hari. Percakapan lelucon gombal konyol yang selalu kita laksanakan penuh tawa yang terbahak bahak. Otakku tahu bahwa itu bukan dari hatimu yang sejujurnya, tapi hatiku ini tak mau tahu.

Otakmu juga pintar, hingga tahu dimana saat hatiku luluh. Tapi saat itu juga kau ambil keputusan sepihak yang bisa kujelaskan harusnya. Bukannya Kau tak mau dengar, tapi Kau sudah tahu dan ingin mengabaikan itu.

Otakku berkata pada sang hati "Belum terlalu sakit 'kan? Masih bisa ditahan 'kan? Jangan buat tuan kita mengelurakan air mata. Kita sudah tahu apa jadinya. Tapi memang pertahananmu selalu longgar"
Hatiku hanya diam. Dia menyusun barikade nya kembali. Memperkuat kembali pertahanannya. Meminta pada otakku untuk membantu nya lagi.

"Komitmen kita agar tidak terlalu percaya Orang Itu. Tapi kebiasaan memang susah di hapus. Bentuk kembali dirimu. Pancarkan lagi pesonamu. Kita bawa Dia agar jatuh di pertahanan ini. Tapi sebelum itu Kau harus pulih. Hanya luka kecil. Luka parah saja bisa sembuhkan 'kan? Aku akan selalu memperkuatmu. Selalu berusaha sadar aga tak ada maling masuk mencuri kamu."

Hatiku tersenyum lebar. "Kita pasangan sempurna 'kan?" Iya mereka pasangan sempurna. Otakku dan Hatiku. Aku takkan membiarkan hatiku terluka dan otakku tahu itu. Dia tidak akan mematikan logikanya. Karena mendapat penghuni yang sepmpurna dilihat oleh Logika dan Nurani. 


You may also like

Tidak ada komentar:

Mengenai Saya

Foto saya
Since 1996 Delusional
Tasa Sri Inten Puspitasari. Diberdayakan oleh Blogger.

Followers

Berbagi lah disini

Pengikut