Aku masih kehilangan bicara ku
Tiap bayang nya lewat di depan mataku

Aku kehilangan pikiran ku
Tiap dia benar ada di hadapan

Lalu Aku kehilangan rasa di lututku.
Rasanya hendak jatuh di saat itu juga
Tapi ku kuatkan langkah ku.
Ku tegarkan senyum ku.
Perkuat gerak tangan ku.
Agar dia berfikir, aku, tanpa nya, kokoh.

Sungguh Dia tak pernah tau, berapa banyak tangis tiap malam agar bisa tersenyum, terbaik, terindah, dan teramah ditiap pagi yang di tempuh.

Tapi dia berkata, layaknya hanya rasa kasihnya yang patut di jaga.
Pikir aku sekuat besi, dingin, tak peduli, tak berasa.
"Tangis nya tiap malam saat tahu aku hubungi kau"
Tangis ku dalam hati siang malam saat ingat dia tak bisa disini. Di samping ku.
Tak ada lagi senyum tiap dia sebut aku.
Tak ada lagi senyum hangat yang berbalas sudi ketika ku senyum padanya
Tak ada senyum dari sepenuh hati ini, karena toreh luka.

Aku lelah. Tak ada ku niat benci pada dia dan kasihnya.
Tapi seorang berkata "hati mu saja kau bohongi. Bagaimana orang lain"

Walau itu, hanya sebatas ini. Sebatas rangkaian kata tidak baku. Sebesar inilah rasa marah dan benci yang boleh aku rasa.

Cukup. Karena dunia sudah tahu. Tahu siapa aku, dia, dan kasihnya.

Mengenai Saya

Foto saya
Since 1996 Delusional
Tasa Sri Inten Puspitasari. Diberdayakan oleh Blogger.

Followers

Berbagi lah disini

Pengikut