Suasana di balik pintu kaca ini sangat hiruk pikuk. Pada raga nya sudah terdapat banyak alat yang tidak aku kenal. Mereka berusaha..berusaha membawa nya kembali. Membawa kembali sahabat ku....emosi ku sudah tak dapat ku kontrol. Aku mengejapkan mata.

*

Aku membelalakan mata. Nafas ku tersenggal. Hari sudah terang. Semalam Dia mengajak aku berjalan jalan. Tumben. Pikirku. Tapi aku terlalu bahagia untuk.menayakannya. "jam 9 ya, Rin" tulisnya.

Mandi, berganti pakaian. Berulang Kali aku bercermin. Pgymadahal hanya jalan dengan sahabat..tapi aku juga tak mengerti apa maunya hatiku ini.

Dia menjemputku dengan skuter kecilnya. Aku tersipu. "sudah bilang ke Nana?" kata ku dari belakang punggungnya.
"ha? Oh iya udah" Dia sungguh banyak tersenyum. Tapi agak ada binar sedih dimatanya.

Kami mapir di tempat bubur ayam kesukaan Kami. "aku yang bayar ya. Kan utang" celanya di tengah nikmatnya kehangatan bubur.
"serius? Cie kamu tumben banget~" Dia hanya tersenyum. "nape lih?" Dia.hanya tersenyum lagi dan aku kembali makan.

"aku traktir es krim yang di jalan itu ya? Itu loh yang deket sekolah kamu itu, lih" galih hanya mengangguk sambil tersenyum. Binar sedih nya masih terpancar. Denan skuter yang sangat pelan sekali dan berputar putar.
"lih..lewat mana sih?"
" kalo sampe sana belum buka gimana? Mending kan puter puter dulu" padahal biasanya Galih diajak makan sekitaran rumah aja dia susah setengah mampus. Hari ini dia kenapa sih..oh iya toko es krim itu buka jam 10 pagi, kita sudah keliling 1 jam sejak jam 10 tadi....

"rasa apa?" Tanya Galih saat skuternya dia parkir depan kedai eskrim.
"mint ada kan ya?" aku merogoh saku.
"aku yang bayar yah?" dia langsung melesat ke dalam kedai.

Galih membawa es krim mint punya ku. Dia membeli es krim choco chips. "nanti ke pertokoan dulu ya. Mau liat liat" aku mulai khawatir. Aku iyakan kemana saja dia mau pergi. Ke mall, ke restoran, bahkan Kami berfoto dengan badut di mall hingga lupa waktu.

Sudah sore. Galih duduj disalah satu kursi taman. Lembayung senja mulai datang.
"kapan kapan gini lagi ya?" kata ku memulai pembicaraan.
"gak bisa.."
"Nana ya? Duh pasti kamu lunasin utang kamu ini biar bisa konsen sama Nana. Mau lupa sana sahabat nya ini."
"sama Nana aja juga ga akan bisa"
"kamu mau pindah?" aku mulai bingung.
"iya...ga akan balik lagi"
"kemana Lih?"
"Kesana" Galih nunjuk keatas langit lembayung senja. Aku mulai gemetar.
"Lih...serius ah...?" Mata ku mulai kabur.
"Rin..maaf ya hutang aku baru aku lunasin sekarang. Maaf ya harkos terus diajak makan. Makasih ya udah nemenin aku hari ini. Titip Nana, Rin. Jaga diri kamu. Tetep inget aku, sahabat kamu disana, dilangit, liatin ngawasin kamu." air mengalir di pipi. "jangan nangis, Rin." dia kebelakang punggungku. Mengelus rambut, menghapus air mata. Menutup kedua mataku. Tangan nya hangat namun lama lama mendingin.

*

Aku kembali pada kenyataan. Galih di dalam. Dia kecelakaan semalam. Aku terbangun tadi pagi karena beribu notif di handphone. Aku terbangun dari mimpi indah dan gemetar. Harap hanya mimpi.belaka.

Nana sudah duduk lemah. Aku di depan pintu ini berdoa untuk sahabatku Galih tanpa henti. Tuhan, aku belum beri tahu akan rasaku padanya. Beri aku kesempatan.

Tapi ini rencanaNya. Garis hijau di pojok.sana menjadi lurus. Aku berteriak. Tapi Galih tidak akan dengar dari luar sini. Orang orang di belakangku berusah menenangkanku. Aku ingin kesana! Disebelah Galih!! Aku terus berontak. Namun aku kalah...Aku tak kuasa, otakku tak jernih. Semuanya menjadi kabur. Hilang dalan gelap. "Galiiih..." lirih ku.

*
Pagi cerah aku kembali terbangun. Mimpi buruk. Kuharap hanya mimpi buruk. Tiap malam air mata ini terus membengkak. Aku membuka handphone.
"jam 9 ya, Rin" aku melihat nama pengirimnya. Aku kecewa.

*

Taman nya kecil. Namun rapih. Hari ini banyak bunga bertabur disana. Ya..ini tempat Galih terakhir tertidur nyenyak. Untuk selamanya. Sudah setahun ternyata. Tapi mimpi indah, dan buruk itu berputar hingga ratusan Kali hampir tiap malam.

Aku kesini bersama beberapa teman. Aku menangis melihat ruang kecil itu. Nana sepertinya tadi datang. Ada bunga kecil khas pemberian Nana.

Duduk di sebelah nisan nya. Kutaruh setangkai mawar kuning Dan putih tanda sahabat Dan cinta suci. Semoga dengan ini tersampailah isi hatiku sebenarnya padanya....

Coba sedikit kamu buka hati kamu. Tutup mata. Bayangin rumah kamu. Saat pagi, matahari yg menyusup lewat jedela siang hari, kehangatan saat malam datang.

Sebetulnya kamu sadar semua akan hilang. Tapi pura pura ga sadar.

Suati hari nanti. Saat sapa pagi papa tak terdengar lagi. Saat sarapan mama tidak sedia lagi diatas meja. Saat saudara mu mulai meninggalkan rumah karena kesibukkan nya. Saat itu mungkin sudah terlambat.

Dulu saat ruang makan penuh dilewati suasana yang khidmat. Ruang tengah penuh tawa.  Disana dulu aku bermain dengan saudara saudara ku. Jail. Nakal. Celoteh. Cerewet. Berisik.

Dulu di kamar saat sakit. Papa mengelus kepala, mama membawakan makanan, kaka/adik mengintip di balik pintu. Tersenyum. Membawa mainan.

Beranten, nangis, baikan, main lagi. Itulah saudara. Tidak ada lelah minta maaf dan memaafkan tanpa diucapkan. Selalu ada alasan dibaliknya.

Papa marah karena aku pulang telat. Ya, sudah sedikit waktu kuluangkan dirumah.

Kulihat kamar kakak ku kosong, mereka sibuk masing masing. Kami bisa tidak bertemu beberapa minggu.
Saat kulihat keluar kamar. Ternyata semua kosong saat ini. Sepi. Suara TV terdengar samar. Kulihat keliling. Sunyi. Memikirkan kenapa aku pulang cepat hari ini. Lelah dengan rupaku sendiri yang sudah tak sanggup memasang senyum.

Senyum berusaha seperti aku bahagia. Tidak ada apa apa. Tapi batin ini berteriak. Ini sudah batasnya. Ke beranjak pulang, selalu disini aku bisa melepas topeng ku. Senyum ku hilang semua mengalir.

Lalu akhirnya seseorang datang. Bertanya akan aku yang sulit tertidur akhir akhir ini. Dia selalu bertanya. Biasanya aku diam. Tapi Kali ini aku malah bertanya.
" kalo semua orang di dunia benci aku, masih mau sayang sama aku?"
"jangan ditanya. Pasti. Mas juga pasti sayang. Makanya kalo ada apa apa sini cerita, kan keluarga ga akan lah bocor. Haha kamu kenapa?"

Kupeluk mereka satu satu. Inilah aku yang sebenarnya. Aku yang cengeng. Takut akan masa depan. Takut akan pandangan orang. Diam seribu kata. Hanya ini tempat dimana ada keluarga ku tempat dimana bernama rumah untuk aku pulang. Yang mungkin suatu hari akan sepi.

Mengenai Saya

Foto saya
Since 1996 Delusional
Tasa Sri Inten Puspitasari. Diberdayakan oleh Blogger.

Followers

Berbagi lah disini

Pengikut