Rumah

/
0 Comments

Coba sedikit kamu buka hati kamu. Tutup mata. Bayangin rumah kamu. Saat pagi, matahari yg menyusup lewat jedela siang hari, kehangatan saat malam datang.

Sebetulnya kamu sadar semua akan hilang. Tapi pura pura ga sadar.

Suati hari nanti. Saat sapa pagi papa tak terdengar lagi. Saat sarapan mama tidak sedia lagi diatas meja. Saat saudara mu mulai meninggalkan rumah karena kesibukkan nya. Saat itu mungkin sudah terlambat.

Dulu saat ruang makan penuh dilewati suasana yang khidmat. Ruang tengah penuh tawa.  Disana dulu aku bermain dengan saudara saudara ku. Jail. Nakal. Celoteh. Cerewet. Berisik.

Dulu di kamar saat sakit. Papa mengelus kepala, mama membawakan makanan, kaka/adik mengintip di balik pintu. Tersenyum. Membawa mainan.

Beranten, nangis, baikan, main lagi. Itulah saudara. Tidak ada lelah minta maaf dan memaafkan tanpa diucapkan. Selalu ada alasan dibaliknya.

Papa marah karena aku pulang telat. Ya, sudah sedikit waktu kuluangkan dirumah.

Kulihat kamar kakak ku kosong, mereka sibuk masing masing. Kami bisa tidak bertemu beberapa minggu.
Saat kulihat keluar kamar. Ternyata semua kosong saat ini. Sepi. Suara TV terdengar samar. Kulihat keliling. Sunyi. Memikirkan kenapa aku pulang cepat hari ini. Lelah dengan rupaku sendiri yang sudah tak sanggup memasang senyum.

Senyum berusaha seperti aku bahagia. Tidak ada apa apa. Tapi batin ini berteriak. Ini sudah batasnya. Ke beranjak pulang, selalu disini aku bisa melepas topeng ku. Senyum ku hilang semua mengalir.

Lalu akhirnya seseorang datang. Bertanya akan aku yang sulit tertidur akhir akhir ini. Dia selalu bertanya. Biasanya aku diam. Tapi Kali ini aku malah bertanya.
" kalo semua orang di dunia benci aku, masih mau sayang sama aku?"
"jangan ditanya. Pasti. Mas juga pasti sayang. Makanya kalo ada apa apa sini cerita, kan keluarga ga akan lah bocor. Haha kamu kenapa?"

Kupeluk mereka satu satu. Inilah aku yang sebenarnya. Aku yang cengeng. Takut akan masa depan. Takut akan pandangan orang. Diam seribu kata. Hanya ini tempat dimana ada keluarga ku tempat dimana bernama rumah untuk aku pulang. Yang mungkin suatu hari akan sepi.



You may also like

Tidak ada komentar:

Mengenai Saya

Foto saya
Since 1996 Delusional
Tasa Sri Inten Puspitasari. Diberdayakan oleh Blogger.

Followers

Berbagi lah disini

Pengikut