I know someday that you would leave me.
Like ours friends did
Not because you not love me anymore,
but because you love me that much
you won't leave me even I already told yo to....
but I know someday you have to leave me.
leave me alone in eternity

You believe it would make me lonely without you.
Of course it is.
But watching you wither.. your energy fading
it's hurt me more.
Your smile that you always show me,
make me hurt even more.
and love you more.

I know..even I'll have eternity at this world
I would never found someone like you anymore.
and I dont want to.

i want you to leave me
go with everyone else.
So I don't have to watch you like this.
Under the morning sunrise in your comfort chair.
Right now..what you can do is smile to me.

"I'm sorry...you have to suffer alone" I said
but you still smiling.
"you should go to another place when you have a chance.
so you wouldn't suffer here alone just with me"
and you smiling again.
"It's hurt for me too watch you like this"
but you answer this time

"thanks for bearing with my ego all this time"
I don't like this
"it's not for you afterall, but for me...I just can't live without you"
His sound is so small
"I'll die ages ago if I leave you alone..if I'm not follow you..
you will gone forever without a trace, and I can't stand that"
He touch my cheek with his small hands.
'Thanks..and sorry you have to be hurt like this,
you are the one that suffer the most
even I promise I will always protect you"

I shake my head.
"I should thank you more..."
his hand fall
so do my heart breaking
but his smile blossom for eternity in his eternal sleep.

I just cry one for all...

may earth give your body warm hug
may sky give your soul beautiful place
with all our friend
let we meet again in the sky, and I will tell
you my story, then I will see your smile again.


by. tasasip
When the earth is not longer..
not longer wants me to come back to him.

I hope...
I hope  sky will welcome me.

But.
One by one..my feathers plucked out
one by one they fell to the ground.

I...Can't fly anymore.

And how about sea?
By drowning in eternity?
Dark..and sun won't reach me.
hmmm
I don't like loneliness afterall.

So here I'am.. on the ground.
Blending.
It's hurt when one by one they left me
cause sky calling their soul,
cause earth longing for their body.

Was drowning and being hugged by sea is a better option?
And then I see a smile at their face.
It dazzled me, but what's this warm feeling inside my heart?

aaah... I have to protect that smile.
even it mean, I'll be hurt again and again.

inspired by Wonder Women Movie

Sorry for the bad grammar.
Sincerely
Tasasip



Sebuah kafe kecil di sudut jalan perbelanjaan menjadi pilihan nya untuk menikmati hari itu. Suara lonceng terdengar saat pintu terbuka. Para pelayan menyambut nya masuk. Dia menempati tempat yang selalu dia duduki. Di meja kecil dengan sofa untuk dua orang disebelah jendela, Dia bias melihat semua orang yang lalu lalang di luar. Jam di lengan kanan nya Dia lirik. Masih sekitar setengah jam dengan waktu perjanjian.
                “Nona, apa nona sudah siap memesan?” kata seorang pelayan pria yang sudah biasa di lihat gadis itu.
                “ooh tentu. Seperti biasa yang aku pesan ya? Tapi gula nya tolong dikurangi sedikit” Gadis itu berkata sambil mengeluarkan buku kecil dari tas nya. Beserta beberapa pensil dan sebuah penghapus.
                “baik nona, silahkan tunggu sebentar” pelayan itu pergi. Suasana tempat ini selalu nyaman. Tidak terlalu ramai, wangi kopi yang beraneka ragam, dan tentunya rasa kopi yang sangat sesuai dengan cita rasa gadis itu membuat Dia senang datang kemari setiap saat sebelum ada pertemuan atau aktifitas menunggu nya. Pesanan nya datang dengan cepat. Diletakan disudut meja, membiarkan aroma nya terbang ke penjuru ruangan. Sambil menunggu waktu berlalu gadis itu menorehkan coretan coretan pada buku kecil nya. Melatih tangan nya walau di akhir pekan.
                Sesaat gadis itu berkonsentrasi pada buku kecilnya, sesorang melewati kaca kafe itu dan bayangan nya membuat sang gadis menoleh kea rah luar jendela. Dia tahu punggung pria itu, dia tahu aura pria itu, dia tahu wajah, hidung, cara berjalan…..dia tahu pria itu..pria yang bayangan nya menemukan gadis itu. Pria itu terus berjalan, dia tidak sadar akan adanya gadis itu.
                Sang gadis terkesiap, meneguk kopi yang mulai hangat hanya setengah gelas, mencari selembar uang di saku dan menaruh nya di meja dengan cepat, memasukan semua barang nya tanpa ditata, “uang nya kutinggal di meja!” menarik jaket yang ada dikursi, berdiri dan hamper terpeleset tapi dia terus belari menuju pintu. “nona kembalian nya?” kata sang pelayang saat dia sudah ada di depan pintu dan siap berlari. “ambil saja!!” Suara lonceng pintu kembali berbunyi untuk kedua kali oleh gadis itu di pagi hari ini.
                Gadis itu berlari menuju arah si pria itu pergi. Mencari di balik kerumunan. “permisi!!” dia menyalip orang-orang di depan nya. Hingga punggung pria itu terlihat. Lalu pria itu berhenti di dekat sebuah dinding toko pakaian, saat melihat wajah pria itu, sang gadis yakin pria yang dicari dan ditunggu telah tiba.
*****
Di sebuah ruang kelas dan penuh dengan suara teman temannya yang berisik. Sebentar lagi kelas akan dimulai tapi beberapa tugas kecil belum gadis itu kerjakan
                “aku pinjam ini yaa?” kata gadis itu pada seorang temannya. Saat temannya sudah mengijinkan sang gadis meminjam catatan dari teman nya tiba tiba ada suara kecil “eee… hei!” sang gadis menoleh sedikit tapi dia tidak mengetahui siapa yang memanggilnya. Hingga akhirnya dia berpaling begitu saja. Anak laki laki manis bersembunyi di balik tundukan nya setelah melihat sang gadis menoleh. Teman teman disekitar anak laki laki itu hanya tersenyum usil pada nya.
                Seorang guru mulai memanggil nama murid baru nya satu persatu. Ada sebuah nama yang membuat sang gadis ingin tahu siapa yang memiliki nama yang sangat mudah dan biasa itu. Seorang anak laki laki manis berdiri di meja paling belakang. Membuat rasa terkesan yang membekas.
                Sepulang sekolah saat sang gadis sudah bersiap untuk pulang, anak laki laki manis itu mendekati bangku nya. “mmm itu…eeee ituu..aku mau tanya sasuatu tentang pelajaran tadi, boleh minta nomor untuk dihubungi?” tanpa sadar wajah gadis itu merah dan dia tertunduk malu, teman sebangku nya mulai tersenyum usil. Sang gadis segera mengeluarkan secarik kertas dari buku kecil nya, menuliskan kan serangkaian nomor dan meninggalkan nya dimeja dengan segera. “aku duluan” dia hanya tersenyum sebentar dengan wajah merah nya dan berlari keluar kelas. Dia tersenyum lebar, menantikkan apa yang akan terjadi.
                Anak laki laki itu lebih kecil daripada sang gadis sehingga membuat sang gadis sering usil padanya. Mereka mengejek satu sama lain, bertengkar, berbaikan, bercerita satu sama lainnya. Pulang bersama dan meninggalkan teman lainnya menaiki bus dan tertawa melihat temannya yang berusaha mengejar bus yang mereka naiki.
                Mereka sampai peada sebuah tempat dimana sang gadis, anak laki laki dan semua teman temannya berkumpul. Mereka dikejar mengililingi tempat itu karena meninggalkan teman teman lainnya. Mereka semua berlari….berlari kesana kemari hingga teman temannya kewalahan dan tak mengejar lagi “aaaa sudah ah kalian berdua itu pasangan yang terlalu enerjik!!” sang gadis yang malu menjatuhkan diri di sebuah bangku taman begitu pula dengan sang anak laki laki. Mereka berdua terdiam tapi saling melihat satu sama lain. Melihat muka mereka yang lelah, berkeringat, dan memerah entah karena malu atau berlari entah berapa lama membuat mereka berdua tertawa. Tawa yang tak bisa dilupakan.
*****
Gadis itu ingat semua detil saat mereka pertama bertemu. Anak laki laki itu sedh tidak kecil dan manis namu sudah menjadi seorang pria yang gagah di matanya. Dia berusaha menghampiri sang pria dengan perlahan tapi langkah nya terhenti. Gadis itu teringat sesuatu. Waktu dimana mereka berdua tak berbicara lagi. Tidak saling menatap mata…tidak, saling menatap wajah sekilas pun tidak pernah lagi.
                Sebuah lorong sekolah sang Gadis melihat anak laki laki itu semakin berubah. Mereka yang sudah tidak di satu kelas lagi tidak pernah saling berbicara kembali. Sekedar bertukar senyum pun tidak, mereka saling melewati dengan grup pertemanan yang berbeda. Sang gadis berusaha dengan keras tetap ceria, jadi kalau sang anak laki laki itu terlihat menoleh padanya dari pelupuk matanya dia sudah tersenyum. Tapi tidak…sang anak laki laki bahkan tidak menoleh sedikit pun. Sang gadis terhenti sekejap dari langkah nya, ingin memanggil nama anak laki laki itu yang sudah ada di ujung lidah nya selama berbulan bulan…tapi dia hentikan. Seorang teman nya mengetahui bahwa sang gadis menghentikan langkah nya..dan memanggilnya “ayo cepat! Nanti kelas keburu mulai” sang gadis langsung menoleh dan tersenyum kembali dengan lebar. “iya sabar!”
                Pria itu mulai berjalan di depan sang gadis. Dia memngingat satu hal lagi. Di dalam kelas itu..dia berteriak karena malu..”aku gak suka kamu kok!” sang gadis kaget dengan kata yang keluar dari mulunya sendiri. Meninggalkan keheningan sesaat di kelas. Membuat anak laki laki marah dan melemparkan sesuatu dan dia pergi keluar kelas. Anak anak lain melanjutkan keisengan mereka “bohong ah bohooong, kalo iya bilag ajaa” keributan itu memudar dan berganti kembali dengan keributan kerumuna pejalan kaki di depan gadis itu di daerah pertokoan ini.
                Kerumunan yang lewati sang gadis terus menerus dan dia hanya terdiam melihat punggung sang pria seperti saatu itu. Saat wisuda kelulusan mereka, dimana sang gadis hanya bisa melihat punggung anak laki laki yang sudah mulai tegap, lebar, dan gagah melewati kerumunan anak anak peserta wisuda lainnya menuju gerbang keluar sekolah. Sang gadis masih diam, berharap sang anak laki laki akan menoleh dan menyapanya seperti dulu. Namu tidak. Dia terus berjalan sama seperti saat ini anak laki laki yang sekarang sudah menjadi pria yang dia kagumi sang gadis bertahun tahun tetap tak menoleh padanya.
                Namun langkah sang laki laki terhenti. Kerumunan di depan sang gadis memudar sebentar…tepat disaat seorang wanita menarik tangan sang pria. Tersenyum kepada sang pria dan sang pria membalas senyum sang wanita itu dengan manis…senyum yang ditunggu tunggu sang gadis tahunan lamanya sudah menjadi milik wanita lain.. sang gadis membatu disitu. Kembali menundukkan kepalanya dan berusaha tenggelam di balik kerumunan. Tapi dia terus berjalan kedepan dan berusaha melihat wajah bahagia  orang lain itu walau sesuatu hendak meluap dari dada dan matanya.
                Sang pria dan wanita itu berbalik arah dan berjalan menghadap sang gadis. Sang gadi berusaha dengan keras tersenyum seperti di lorong sekolah dulu. Jadi bila tiba tiba sang pria menyapa nya sang gadis sedang tersenyum. Tapi tidak sang pria tak menyapa nya. Rasanya pahit tapi sang gadis tetap berusaha tersenyum,
                “hei..!!” sang gadis terhenti dari langkah nya. Menarik nafas dan berusaha tersenyum sambil menoleh
                “hei juga!!” dengan senyum yang lebar dia melambaikan tangan nya. “cieee” dengan senyum usil yang biasa dia lakukan saat semasa sekolah dulu dia melirik anatar sang pria dan wanita itu. Wajah sang pria dan  wanita itu memerah. Dan sesaat itu sang gadis itu tahu bahwa benar benar tak ada tempat untuknya dihati sang pria yang sedang barbahagia itu. “eeemmm” sang gadis sudah tak bisa menahan senyumnya lagi “aku duluan ya sudah ada janji, daaaah” sang gadis membalik badan nya dengan berlari diantara kerumunan.
                Dia terus berlari dan tak ada yang mengejarnya. Dia berlari sendiri dan tak ada yang berlari bersamanya seperti dulu. di kerumunan yang ramai ini dia sendiri berlari…berlari dari masa lalunya dan tak menoleh. Tapi nafas nya habis, rasanya ada yang mengganjal nafas nya, dia terduduk di sudut jalan, ada yang meleleh di balik kelopak matanya, ada rasa sakit yang keluar dari dadanya.
                “oii..! kamu ngapain nangis disini?” suara dari balik punggung nya, dia menghapus air matanya. Gadis ini tahu siapa saja yang mendekatinya. Berkata tanpa nada simpati tapi penuh perhatian di baliknya
                “dia bĂȘte tuh nunggu kita kelamaan, apa nyasar? Masa nyasar disini sih?” suara usil yang terdengar tapi tidak membuat jengkel kali ini.
                Aku….oh iya gadis itu adalah aku..membasuh mata ini. Mencoba tersenyum berbalik ke arah mereka yang berdiri membelakangi matahari dan bayangan nya menutupi pandanganku
                “eh…kalian tahu ga tadi aku ketemu siapa?” dengan perasaan yang lebih ringan aku melihat mereka semua.
                “haaaah? Siapa” kata seorang anak perempuan yang langsung menggandeng tanganku untuk berdiri.
                “hmmm siapa yaaa~~~” jawabku usil. “TUHKAN GA PENTING” mereka berteriak bersamaan, dan membuat perasaan ku semakin ringan. Walau pria itu tak di sebelahku. Walau bayangan nya yang menyapaku lebih dulu. Tapi disini ada mereka lebih berharga dari pria itu. Karena bayangan mereka menyapaku bersama dengan pemiliknya.


Source picturee: 9gag/Ao Haru Ride fans picture

Aku masih kehilangan bicara ku
Tiap bayang nya lewat di depan mataku

Aku kehilangan pikiran ku
Tiap dia benar ada di hadapan

Lalu Aku kehilangan rasa di lututku.
Rasanya hendak jatuh di saat itu juga
Tapi ku kuatkan langkah ku.
Ku tegarkan senyum ku.
Perkuat gerak tangan ku.
Agar dia berfikir, aku, tanpa nya, kokoh.

Sungguh Dia tak pernah tau, berapa banyak tangis tiap malam agar bisa tersenyum, terbaik, terindah, dan teramah ditiap pagi yang di tempuh.

Tapi dia berkata, layaknya hanya rasa kasihnya yang patut di jaga.
Pikir aku sekuat besi, dingin, tak peduli, tak berasa.
"Tangis nya tiap malam saat tahu aku hubungi kau"
Tangis ku dalam hati siang malam saat ingat dia tak bisa disini. Di samping ku.
Tak ada lagi senyum tiap dia sebut aku.
Tak ada lagi senyum hangat yang berbalas sudi ketika ku senyum padanya
Tak ada senyum dari sepenuh hati ini, karena toreh luka.

Aku lelah. Tak ada ku niat benci pada dia dan kasihnya.
Tapi seorang berkata "hati mu saja kau bohongi. Bagaimana orang lain"

Walau itu, hanya sebatas ini. Sebatas rangkaian kata tidak baku. Sebesar inilah rasa marah dan benci yang boleh aku rasa.

Cukup. Karena dunia sudah tahu. Tahu siapa aku, dia, dan kasihnya.

Layaknya cangkir. Itulah aku memggambarkan hati manusia.Cangkir yang indah menandakan hati yang cantik pula. Cangkir cantik...sekuat apapun terlihatnya sebetulnya rapuh. Sekali nya mereka hancur, akan seperti kumpulan puzzle yang sulit. Akan selalu ada bagian yang hilang.

Agar terlihat tetap sempurna kadang tangan ini membantu. Membantu agar bagian yang rusak itu tertutupi. Berusaha agar tak ada isinya yang keluar selama sedang menampung. Tapi saat tidak ada orang yang harus di perlihatkan cangkir cantik itu lagi, sang tangan beristirahat dan membiarkan semua isinya lolos. Dan terus berulang...ulang...dan ulang.

Tapi tahu kah kau? Menyentun cangkir yang sudah tidak sempurna itu menyakitkan. Menyayat tangan dengan goresan kecil. Hingga mungkin suatu hari nanti sang tangan akan melepaskan pegangan nya pada cangkir, dan biarkan cangkir menjadi ber keping keping.

Suatu saat nanti. Bila tangan ini sudah tidak terluka. Kususun kembali cangkir cantik ini, agar selalu ada orang yang hendak melihatnya. Agar ada orang yang hendak mengisi nya kembali dan mungkin akan ada tangan lain yang membawa cangkir nya dan menyempurnakan kedua cangkir itu.

Pa, inget ga? Waktu kecil aku selalu minta gendong, kuda kudaan dan aksi aksi heroik kecil lainnya? Sekarang sudah ga bisa..aku sudah terlalu besar.

Ma, inget ga? Waktu kecil aku pernah lari lari, padahal sudaha di bilang "awas jatuh" tapi aku tak memdengar. Lalu aku terjatuh, dan menangis. Sekarang, jatuh tidak se sederhana arti dalam kamus.

Pa, dulu aku selalu kesal di antar jemput. Ga bebas. Sekarang, pulang sendiri tuh kadang lelah rasanya.

Ma, dulu aku selalu pilih pilih makanan buatan mu. Walau sampe sekarang juga masih, tapi suatu aku akan rindu ras masakan rumah itu.

Pa, ingat waktu nilai ku hancur? Disana cuma ada kau yg membantu aku berdiri menghadapi hal itu. Saat ini hal itu harus aku hadapi sendiri.

Ma, waktu kecil saat sakit disana selalu ada dirimu menjaga keadaanku. Aku berantem dengan saudara saudara ku hingga kami menangis, tapi tertawa bersama 5 menit kemudian.

Sekarang...aku rindu saat kecilku. Dimana hidup selalu di bantu oleh kedua orang tua ku. Saat bahagia mudah di dapat. Saat cinta berarti kasih sayang orang tua.

Aku mengerti rasa khawatirmu adalah rasa takut bahwa aku tak siap menghadap dunia. Karena nyatanya dunia tidak seindah dunia dongeng yang kau ceritakan menjelang tidur dulu. Karena dunia memiliki sisi tajam di tiap sudut nya. Karena kau takut aku terlalu rapuh keluar dari sarang.

Hanya satu pintaku..bila suatu saat nanti dunia ini membuatku tak punya tempat bergantung. Bolehkah aku datang kemari? Dirumah ini? Kerumah dimana aku dibesarkan, dimana kalian berdua selalu ada. Sediakah menerima keluh kesahku?  Dengan senyum kalian...karena kadang aku hanya ingin menangis seperti bayi kecil di depan kalian.

Suasana di balik pintu kaca ini sangat hiruk pikuk. Pada raga nya sudah terdapat banyak alat yang tidak aku kenal. Mereka berusaha..berusaha membawa nya kembali. Membawa kembali sahabat ku....emosi ku sudah tak dapat ku kontrol. Aku mengejapkan mata.

*

Aku membelalakan mata. Nafas ku tersenggal. Hari sudah terang. Semalam Dia mengajak aku berjalan jalan. Tumben. Pikirku. Tapi aku terlalu bahagia untuk.menayakannya. "jam 9 ya, Rin" tulisnya.

Mandi, berganti pakaian. Berulang Kali aku bercermin. Pgymadahal hanya jalan dengan sahabat..tapi aku juga tak mengerti apa maunya hatiku ini.

Dia menjemputku dengan skuter kecilnya. Aku tersipu. "sudah bilang ke Nana?" kata ku dari belakang punggungnya.
"ha? Oh iya udah" Dia sungguh banyak tersenyum. Tapi agak ada binar sedih dimatanya.

Kami mapir di tempat bubur ayam kesukaan Kami. "aku yang bayar ya. Kan utang" celanya di tengah nikmatnya kehangatan bubur.
"serius? Cie kamu tumben banget~" Dia hanya tersenyum. "nape lih?" Dia.hanya tersenyum lagi dan aku kembali makan.

"aku traktir es krim yang di jalan itu ya? Itu loh yang deket sekolah kamu itu, lih" galih hanya mengangguk sambil tersenyum. Binar sedih nya masih terpancar. Denan skuter yang sangat pelan sekali dan berputar putar.
"lih..lewat mana sih?"
" kalo sampe sana belum buka gimana? Mending kan puter puter dulu" padahal biasanya Galih diajak makan sekitaran rumah aja dia susah setengah mampus. Hari ini dia kenapa sih..oh iya toko es krim itu buka jam 10 pagi, kita sudah keliling 1 jam sejak jam 10 tadi....

"rasa apa?" Tanya Galih saat skuternya dia parkir depan kedai eskrim.
"mint ada kan ya?" aku merogoh saku.
"aku yang bayar yah?" dia langsung melesat ke dalam kedai.

Galih membawa es krim mint punya ku. Dia membeli es krim choco chips. "nanti ke pertokoan dulu ya. Mau liat liat" aku mulai khawatir. Aku iyakan kemana saja dia mau pergi. Ke mall, ke restoran, bahkan Kami berfoto dengan badut di mall hingga lupa waktu.

Sudah sore. Galih duduj disalah satu kursi taman. Lembayung senja mulai datang.
"kapan kapan gini lagi ya?" kata ku memulai pembicaraan.
"gak bisa.."
"Nana ya? Duh pasti kamu lunasin utang kamu ini biar bisa konsen sama Nana. Mau lupa sana sahabat nya ini."
"sama Nana aja juga ga akan bisa"
"kamu mau pindah?" aku mulai bingung.
"iya...ga akan balik lagi"
"kemana Lih?"
"Kesana" Galih nunjuk keatas langit lembayung senja. Aku mulai gemetar.
"Lih...serius ah...?" Mata ku mulai kabur.
"Rin..maaf ya hutang aku baru aku lunasin sekarang. Maaf ya harkos terus diajak makan. Makasih ya udah nemenin aku hari ini. Titip Nana, Rin. Jaga diri kamu. Tetep inget aku, sahabat kamu disana, dilangit, liatin ngawasin kamu." air mengalir di pipi. "jangan nangis, Rin." dia kebelakang punggungku. Mengelus rambut, menghapus air mata. Menutup kedua mataku. Tangan nya hangat namun lama lama mendingin.

*

Aku kembali pada kenyataan. Galih di dalam. Dia kecelakaan semalam. Aku terbangun tadi pagi karena beribu notif di handphone. Aku terbangun dari mimpi indah dan gemetar. Harap hanya mimpi.belaka.

Nana sudah duduk lemah. Aku di depan pintu ini berdoa untuk sahabatku Galih tanpa henti. Tuhan, aku belum beri tahu akan rasaku padanya. Beri aku kesempatan.

Tapi ini rencanaNya. Garis hijau di pojok.sana menjadi lurus. Aku berteriak. Tapi Galih tidak akan dengar dari luar sini. Orang orang di belakangku berusah menenangkanku. Aku ingin kesana! Disebelah Galih!! Aku terus berontak. Namun aku kalah...Aku tak kuasa, otakku tak jernih. Semuanya menjadi kabur. Hilang dalan gelap. "Galiiih..." lirih ku.

*
Pagi cerah aku kembali terbangun. Mimpi buruk. Kuharap hanya mimpi buruk. Tiap malam air mata ini terus membengkak. Aku membuka handphone.
"jam 9 ya, Rin" aku melihat nama pengirimnya. Aku kecewa.

*

Taman nya kecil. Namun rapih. Hari ini banyak bunga bertabur disana. Ya..ini tempat Galih terakhir tertidur nyenyak. Untuk selamanya. Sudah setahun ternyata. Tapi mimpi indah, dan buruk itu berputar hingga ratusan Kali hampir tiap malam.

Aku kesini bersama beberapa teman. Aku menangis melihat ruang kecil itu. Nana sepertinya tadi datang. Ada bunga kecil khas pemberian Nana.

Duduk di sebelah nisan nya. Kutaruh setangkai mawar kuning Dan putih tanda sahabat Dan cinta suci. Semoga dengan ini tersampailah isi hatiku sebenarnya padanya....

Mengenai Saya

Foto saya
Since 1996 Delusional
Tasa Sri Inten Puspitasari. Diberdayakan oleh Blogger.

Followers

Berbagi lah disini

Pengikut