Aku memang bukan seorang anak yang berbakti, sahabat yang setia, teman terbaik, murid terpintar, kekasih idaman, bahkan bukan sama sekali hamba yang takwa pada Tuhan-nya.

Hanya sedikit rasa rapuh dan takut akan kehilangan itu semua. Hati yang terasa hampa karena kotornya pikiran jiwa. Takut akan masa depan dan hari hari yang kutempuh. Takut akan hilangnya bahagia dengan mereka di surga kecil ku di dunia.

Kosong hampa nihil. Hati ku kotor. Benci akan diri sendiri yang demikian. Kotor nya aku yang berprasangka buruk pada kawannya.

Egois berharap semua anganku akan jadi nyata. Masa depan yang penuh tanggung jawab tak semudah angan pastinya

Aku bertanya tanya untuk apa aku masih berdiri tegak di bawah langit biru. Mimpikku ada disana tak mungkin kuraih.

Aku masih syukuri bahwa diriku masih memikirkan ini. Saat air mata jatuh di atas kehampaan. Bagaimana bila aku bahkan sudah tak peduli dengan apapun. Dengan keluarga, sahabat, teman, guru, dan kasih sayang dari-Nya ini. Tidur selamanya akan indah rasanya.

Aku tak tahu harus apa. Hanya pada-Nya kusembahkan sujudku, meminta penuhi hasrat manusia ku. Angkat semangatku , bersihkan prasangkaku, hadapi hari hari ku, pandang masa depanku, sayangi keluargaku.

Peluklah aku sesaat. Agar aku selalu ingat separah apapun hidupku, semua adalah anugrah-Mu, semua atas kehendak-Mu, dan selalu ada diri-Mu di sisiku.

Masih kau melihat kesana. Disana biasalah gadis sahabat ku itu berdiri. Bercerita dan tertawa.

Mata mu terpaku, pena yg kau mainkan itu terus berputar. Cahaya mathari mulai hilang di terpa awan kelabu.

Aku selalu memperhatikan mu. Bahkan tiap gerak gerik mu. Karena itu aku teringat saat hari itu.

Dimana tangis paling terdengar darimu itu, teriakan hati tak percaya yg hanya terdengar hatiku. Disaat sahabatku itu terbaring diam setelah nafas yang entah kapan berhenti terhembus.

Kau disana menggenggam tangannya yang mendingin dan basah karena tangismu.

Aku terdiam di sampingmu, sahabatku pergi. Kamu yg kucintai terluka sangat dalam. Kukatakan "re...re..ayo re bangun. Aga butuh kamu" tapi itu hanya terucap di hati.

Tak ada tanggapan. Kamu terus terisak hingga aku tak kuat lagi. Isak mu yang sangat menyiksa telingaku. Membuat sadar akan aku kehilangan sahabat terbaikku, sadar akan ketidakberdayaan ku membuat kamu tidak dapat berhenti menangis.

Sore ini aku duduk di bangku yang biasanya ada gadis itu. Tapi kau tetap melihat keluar pintu dimana biasanya kita bertiga bersama.

Sakit memperhatikan air yang mengalir kembali di bola matamu yg penuh harap itu. Harapan akan gadis itu berdiri disana. Aku pura pura tak lihat, karena kau orang yang paling tak mau terlihat lemah.

Kubuka buku di depanku. Tadi kau duduk disini dan menggambar. Gambar sahabatku ada di mana mana. Dari samping, depan bahkan senyum nya yg selalu menemani ku juga di hari hari sebelumnya.

Aku merasa dosa akan rasaku padamu di balik sahabatku. Tapi ku usahakan untuk hilangkan rasa itu.

Akhirnya aku melangkah padamu yg matanya masih tersisa air mata. "ga, kantin yu. kita makan di tempat biasa" suaraku bergetar. Kamu memegang tanganku.

"iyaa..tempat biasa ya?" kamu memegang kepalaku tp ada rasa getar disana. Kamu berusaha tersenyum di depanku.

"iyaa" aku menunduk kerena tanpa sadar air mataku mengalir. Kamu tahu akan hal itu, mengelus kepalaku, merangkul ku sehingga tdk ada yg bertanya kita berdua kenapa.

Hari itulah kita mulai bisa menerima perginya gadis yang tersayang. Menaruh semua kenangan bersamanya seperti harta karun. Karena dia kita bisa berama hingga entah berapa tahun hingga saat ini.





Saat aku mengarungi dunia maya aku menemukan beberapa kata yang nyata namun maya. "Jatuh Cinta" 

Seperti itulah Cinta. Perasaan manusia yang paling sempurna yang paling berwarna-warni dari Tuhan. Seribu kata apapun yang paling realistis di dunia tidak akan bisa mendeskripsikan apa itu Cinta. Deskripsiku ini dasar yang paling ku mengerti.

Cinta itu warna warni. Bahkan lebih lengkap dari pelangi. Lengkap dengan warna gelapnya. Merah Cinta membara, Jingga Kebahagiaan, Kuning Ceria, Hijau Damai, Biru Bingung, Nila rasa Ambigu, Ungu Gudah, Bahkan Hitam yang artinya Sedih dan warna gelap lainnya yang artinya beberapa macam kesedihan, bahkan putih untuk Cinta yang direstui Tuhan.

Sebelumnya apa yang disebut Jatuh pasti menyakitkan, entah hanya sekedar luka kecil, memar, hingga yang parah. Seperti hilang logika, buta, bahkan mungkin tuli. Tak aneh kalau Jatuh Cinta pun demikian. Tuli tak mau mendengar kata orang itu lebih mengerikan daripada buta tak mau melihat orang lain. Logikanya hancur rapuh.

Banyak yang berkata "Buat apa Jatuh Cinta kalau tak bisa bersama" hahaha

Karena Cinta tak harus memiliki. Ini bukan hanya sekedar judul puisi atau lagu. Tapi memang nyatanya begitu.
Dengan merelakan orang yang Kau cintai bersama orang lain akan ada bahagia lainya. Betapa banyak akan rasa syukur yang akan diterima begitu Kau bertemu orang yang tidak akan melepaskan mu dan Dialah bahagiamu?

Long post sudah. Thanks ;) 

Mungkin bodoh rasanya saat ini. Sudah berbulan bulan berlalu sejak hubungan kerja tempat dimana Meisy berakhir. Horisa melanjutkan sekolahnya seperti biasa kembali... Dasa mendapatkan ijazah kelulusannya sebulan lalu. Acara makan makan sederhana hari itu lah yang menyenangkan berubah menjadi menyebalkan sekaligus.

Ditengah acara pesta aku mulai merasakan perasaan yang menyebalkan. Ku usap dadaku dan menarik nafas panjang. Malam minggu walau single tetep menyenangkan kok. Walau diantara 7 orang ini yang tak membawa pasangannya hanya aku seorang. 

Meratapi kopi yang kupesan dari tadi. Mungkin dengan kopi pikirannku bisa sedikit tenang. "Napa lu?" Potong Dasa merasuki lamunan dan membuyarkan pemikiran gila ku.
"Ga.. envy aja dama lu pada"

"aaaah~ guys ada yang galau niiiih" Seru Horisa yang ternyata menguping di tengah mesranya Dia dengan kekasihnya. Dasar perempuan.

"Oke, to the point aja... Uah berbulan bulan. Lepasik Ra.. Lepasin!" Dasa meniupkan kan asap rokoknya di depanku "Seperti itu~"

"Terserah lo deh" Aku kembali meratapi meja yang kosong karena pesanananku belum datang juga. "uuuiiiiik!!" Suara HP ku yang bernada angry bird itu menarik perhatian pengunjung lainnya. Aku mebuka kunci dan melihat pesan itu dari siapa. Meisy.

"kak? di cafe Panna?" lalu ku balas. "Kok Tau?"  ku hisap rokok ku perlahan. Bunyi dering HP ku menarik perhatian orang oarang kembali. "Rada di silent bisa kali Gera...." Keluh Horisa.
"Nanti aja deh" Kataku sambil mengibaskan tanganku.

"Aku juga ada disitu. Coba liat meja no 20 deh" Aku menengok ke belakang. Ada 4 orang anak dari kelas yang kulatih dulu. Ah....... Rasanya sesak amat parah melebihi dari saat pertama kali aku menghisap roko dulu. Tangan kanan Meisy memegang HP tapi tangan kirinya tergantung di bawah menggandeng tangan seorang anak laki laki sebayanya. Aku kenal.

"hmm Ra... aduuh udah liat ya.." Cela Dasa. Ternyata yang dapet sms itu bukan aku saja. Tapi begitu juga Horisa dan Dasa. 

"ya gitu deh. Gue balik ya......"
"Jangan! cancel pesenan lo. Aku abisin minum kita rame rame yuk ke mana? " Tanya Horisa. "ya ga Guys?"
Kami menghabiskan semua pesanan. Aku sengaja lewat tempat duduk Meisy hanya untuk bertegur sapa.

"Kok cepet sih kak?" Tanya Meisy.
"Euuuumm, mau main lagi. Bocah ga boleh ikut!" Kataku menyentaknya. Karena biasanya mereka selalu memaksa ikut. Dengan tawa yang juga mengiringi perkataanku sehingga tidak berat di bawanya. Ku elus kepalanya. "Yo nanti ya kalo main lagi bareng bareng pas siang aja. Oke?" 

Ku lepaskan tanganku dari tangan nya dengan harapan sisa perasaan sakitku tertinggal disana semua. Begitu juga dengan bahagia yang menyengat hati waktu dulu.

Menemani ku berteriak di cafe di daerah tinggi, billiard, bowling, dan beberapa gelas cocktail manis. Teman temannku ini memang jahat punya jahat meninggalkanku, tapi tak pernah jahat meninggalkan ku sendiri di saat suram.

Persahabatan dan Pertemanan tak bisa di gantikan dengan Cinta, tapi Cinta bisa di ganti oleh mereka. 


(Diary ku selesai disini. Kalo Aku menulis Kembali diary ku, berarti aku tlah jatuh cinta kembali. Doakan saja yaaa =)) hahah) 
Tiap detik, tiap tapakan kaki yang membekas di tanah hari berlalu begitu saja. Tak terasa. Bukan karena bahagia yang membuat ku terbang ke langit seperti biasanya. Tapi malah perasaan kelabu yang membuat pikiranku tertinggal entah dimana.

Rasanya sudah seperti tong sampah dimana semua kata manis mu di buang. Bukan karena memang dari hatimu, tapi butuhmu.

Aku mengikuti semua permainan konyol. Permainan untuk menundukan hati yang keras ini. Otakku terlalu pintar untuk menolak semua bujuk halus darimu. Menyenangkan ternyata mengikuti semua permainan itu. Karena kita memang memiliki sifat yang sama. Tapi otakku terlalu pintar untuk jujur seperti yang kau lakukan saat itu.

Hatiku memang lebih bodoh. Tanpa sadar semua kata kata mu jadi kebiasaan yang harus diterimannya di pagi hari. Percakapan lelucon gombal konyol yang selalu kita laksanakan penuh tawa yang terbahak bahak. Otakku tahu bahwa itu bukan dari hatimu yang sejujurnya, tapi hatiku ini tak mau tahu.

Otakmu juga pintar, hingga tahu dimana saat hatiku luluh. Tapi saat itu juga kau ambil keputusan sepihak yang bisa kujelaskan harusnya. Bukannya Kau tak mau dengar, tapi Kau sudah tahu dan ingin mengabaikan itu.

Otakku berkata pada sang hati "Belum terlalu sakit 'kan? Masih bisa ditahan 'kan? Jangan buat tuan kita mengelurakan air mata. Kita sudah tahu apa jadinya. Tapi memang pertahananmu selalu longgar"
Hatiku hanya diam. Dia menyusun barikade nya kembali. Memperkuat kembali pertahanannya. Meminta pada otakku untuk membantu nya lagi.

"Komitmen kita agar tidak terlalu percaya Orang Itu. Tapi kebiasaan memang susah di hapus. Bentuk kembali dirimu. Pancarkan lagi pesonamu. Kita bawa Dia agar jatuh di pertahanan ini. Tapi sebelum itu Kau harus pulih. Hanya luka kecil. Luka parah saja bisa sembuhkan 'kan? Aku akan selalu memperkuatmu. Selalu berusaha sadar aga tak ada maling masuk mencuri kamu."

Hatiku tersenyum lebar. "Kita pasangan sempurna 'kan?" Iya mereka pasangan sempurna. Otakku dan Hatiku. Aku takkan membiarkan hatiku terluka dan otakku tahu itu. Dia tidak akan mematikan logikanya. Karena mendapat penghuni yang sepmpurna dilihat oleh Logika dan Nurani. 
problematika.. mungkin bahasa yang berat. Entri yang saya buat memang kesannya selalu seenaknya saya sendiri, tidak penting, tidak tentu arahnya.

"saya terlalu baik untuk selingkuh, tapi terlalu jahat untuk setia" tiba tiba di tengah perjalanan pulang sekolah terlintas rangkaian kat absurd atau perumpamaan yang agak kasar ini di kepala saya. Kesannya plinplan memang. Tapi itulah suatu hubungan. Banyak jalannya

Menyakiti. Ini salah satu jalan yang tidak memberatkan hatimu saat melakukannya. Tapi suatu saat nanti, beberapa orang berkata mengenai kata "karma". "Kau akan merasakan karma" saya sendiri bingung apa difinisi lengkap Karma. yang pasti anda akan merasakan apa yang telah anda lakukan. Itu definisi ringan.

Disakiti. Namanya aja "DISAKITI" mana ada sih yang enak dari hal ini? mau dari awla sampai akhir ya sakit aja terus sampe mampoos~yah tidak sampai mati tentunya. Sampai anda menemukan pengganti atau obat dari hal ini dapat menyembuhkannya.

Jadi lebih memilih yang mana? "Menyakiti" atau "disakiti" semua ada resikonya. senang baiknya atau bagaimana tergantung apa yang ada.  Sekiranya entri ini masih kasar tidak jelas, tidak mengena di hati ya maafka. Saya masih belajar. Sekian Terima Kasih. Sampai Jumpa
Buat apa kamu hidup dengan umur yang panjang? Untuk menikmati perkembangan negara? Apa kau yakin negara yang Kau tinggali menjadi lebih baik? Atau untuk menikmati harta yang selama ini kau tabung? Tak ada jaminan harta itu tidak habis sebelum akhir hayat kan?

Walaupun di umur yang sudah renta badan mu masih bugar mungkin itu salah satu kesenangan nya. Tapi saat Kau sadari kini mungkin Kau hanya duduk sendiri di pekarangan rumah luas yang dulu masih bisa Kau rawat sendiri. Sekarang yang merawatnya hanya seorang tukang kabun yang terus menerus berganti. Menikmati mentari pagi dengan secangkir teh yang dibuat oleh seorang pelayan muda. Dia anak dari pelayan yang dulu. Pelayan yang dulu terlalu tua untuk menyiapkan keperluar untuk orang yang sangat tua.

lalu terdengar suara telpon. Kau yang masih cukup bugar di umur panjang mu itu menuju tempat telpon itu sendiri. Kedalam rumah. Sebugar apapun itu badanmu, Kau sudah tak bisa mengangkat telpon di dering ketiga. Dering kelima adalah catatan rekor terbaikmu saat ini.

Suara di balik telpon itu sendu. Tapi masih muda dan cukup segar. Kau sedikit terkejut dengan sebuah kabar bahwa seorang teman baikmu akhirnya pergi untuk selamanya lebih dulu kembali. Kau sudah tak aneh mendengar kabar itu. Karena hampir tiap minggu Kau mendengar kabar seperti itu. Tapi air mata tetap mengalir karena mengingat kenangan bersama sahabatmu yang berjanji akan pergi bersamamu.

Telpon ditutup. Berjalan mengitari rumah menuju pekarangan kembali. Di sekitar dinding rumah banyak foto terpampang. Dari anak, cucu, bahkan cicit mu. Sebuah foto membuat mu merasa kesepian. Bagaimana rasanya megingat seorang anak yang dulu Kau gendong tinggi kelangit sekarang sudah ditanah, kembali ke asalnya lebih dulu dari mu.

Seseorang datang dengan mobil. Saat kau melihat keluar ternyata itu cucu mu yang membawa mobil bersama cicit mu yang masih belum mengingat. Dan terakhir adalah anakmu yang sekarang rasanya lucu melihatnya.
Saat kau duduk bersama anakmu rasanya sudahterlihat bersama teman. Rambut putih, kulit yang sudah elastis lagi. dan gigi palsu yang hampir lepas saat memakan camilan.

Saat malam semua tamu telah pergi. Rumah kembali sepi. Melihat banyak foto di dindingyang orang nya sudah pergi selamanya. Rindu yang sudah tak dapat ditahan lagi adalah rindu saat melihat foto pasangan mu sedang bersanding berdua di pelaminan. Satu yang terpikir olehmu "Aku sudah tak mau mengantar orang ke tempat istirahat terakhirnya lagi" tapi takdir berkata Kau harus lakukan itu. Menerima rasa kesepian bahkan senang yang mungkin lebih sedikit.

Mengenai Saya

Foto saya
Since 1996 Delusional
Tasa Sri Inten Puspitasari. Diberdayakan oleh Blogger.

Followers

Berbagi lah disini

Pengikut