Selalu. Entah mungkin sudah beribu kali ini terjadi. Selalu saja Kau datang di saat yang tepat.
Entah itu bagaimana caranya, tapi memaang di saat yang tepat. Seperti Tuhan tak mengizinkan aku untuk mencari cinta yang baru, Kau selalu datang. Menghancurkan benih yang mulai tumbuh menjadi kecambah cinta kecil yang rapuh. Kau seperti akar pohon kuat yang menjalar dan hancurkan akar cinta rapuh itu. membuatku selalu melihatmu kembali.
Aku lelah berbahasa puitis. "Kau" yang kumaksud dalam post ini adalah seseorang "Idiot yang selalu dengan suksesnya membuat Aku stay-cool di status jomblo" entah saking idiot-nya atau saking kuat feeling-nya hingga Dia mampu berbuat demikian.
Dia bukan milik aku, dia itu tuh milik orang lain. kadang aku risih juga lahya...kalo dia memperlakukan aku seperti yang aku mau. Bagaiman dengan sesorang sang pemilik hati itu? hancur? pasrah? ga mungkin. Pasti aku kena sesuatu hal buruknya.
Si idiot jenius membuat saya selalu kepikiran. Padahal sebetulnya banyak yang lain yang lebih pantas dipikirkan. Tapi inilah keadaanya. FRONTALNYA! Disaat Aku mulai menyayangi (cie menyayangi ) orang lain.  Dia datang, dengan semua harapan kosong yang aku ketahui bahwa itu harapan kosong~ tapi tetap aku harapkan kedatangannya. Pokoknya si Idiot Jenius  ini menybalkan.



Entah sudah hari keberapa aku melamun di dalam tempat makan ini. Disini sejenis cafe, diarea merokok aku duduk menunggu temanku. Dia juga sama, teman yang berkerja atas permintaan Dasa. Pembimbing untuk perlombaan design grafis di sekolah itu. Agak aneh ya memang, sekolah lain memakai jenis hal praktek seperti kesenian yang dapat langsung dipraktikan. Ini malah hal yang proses keseluruhannya di balik layar. Memang sih sekolah ini memiliki program life skill wajib yang program design nya cukup maju di banding sekolah lainnya. Ya aku lihat sih, kemampuan mereka yang mengambil program design ini kemampuannya cukup diancungkan jempol. Kalau dulu waktu SMA aku sekolah disana, mungkin kuliah ini aku akan ambil jurusan Design Grafis bukan Pertambangan..... 

Membahas hal itu sekarang mungkin tak berguna bagiku. Karena aku sangat bersyukur karena adanya acara itu, Dasa yang memberikan perkerjaan ini, dan pertemuan singkatku dengan….oh ya..when the first time i saw her..uhyuh, bahasa Inggris kan jelek.Ya~sejak hari itu kalo mengingat ini rasanya ‘nyesek’ ha..ha rasanya udah gabisa ketawa. Sangat renyah rasa tawa ini.
Matahari menembus kaca, cahayanya sudah mulai jingga, sudah sore tapi Horisa belum datang. Ya ampun rokok sudah mulai habis. Kopi sudah mau habis juga. Pesan lagi mungkin ide yang cukup baik. Untuk besok makan siang, bayar gimana ya? Coba Meisy disini, Aku tidak akan butuh secangkir kopi lagi.
Meisy…Meisy..dan Meisy. Payah. Otakku payah.
Benar, sebaiknya aku pesan secangkir kopi lagi.
 “Ra!” Baru tangan hendak melambai palayan tapi ada yang menyapa di pintu masuk smoking area. Aku menoleh, tangan yang sudah hampir terangkat tadi berbalik melambai pada arah suara itu.
“Yo!”
“Udah lama?” Ternyata cewek tuh seperti ini ya.. lama..”Jangan mikir aku lama karena aku cewe” Rambut Horisa itu panjang, lurus sepunggung. Kulitnya coklat, badannya kurus. Anaknya periang, sangat periang. Mungkin tepatnya hiperaktif.
“Yeeeh Ris, tenang aja aku masih inget kamu bukan cewe biasa~haha” Kenapa tawa ku begitu renyah. Mungkin aku butuh kopi “Mas!” Kupanggil pegawai café. “Pesan Espresso nya satu ya”
“Pesan lagi? Tumben lho..biasanya satu cukup”  Horisa mengeluarkan sebatang permen lollipop dari tas selempang nya “Mau?” Aku hanya menggeleng atas tawarannya. Permen ga cukup nih kayaknya. “Masih mikirin feeling gila kamu itu?” Lanjut Horisa.
Aku hanya terus terdiam memandang keluar. Kearah parkiran dimana motor ku di parkir. Kemarin aku mengantar Meisy pulang dengan motor itu..singkat sekali rasanya. Memang rumahnya dekat sama sekolanya sih. Jadi aku harus berharap apa? Membawa Dia pulang ke rumahku? Mungkin Aku gila sekarang. Itu sih sama saja dengan menculik. Rasanya kepala ini penuh dan tangan otomatis memijat pelipis kepala. “Ra!”
“Hah? Oh iya. Emang kayaknya Aku benar benar gila sekarang.”
“Ra, mau gimana juga, mau Meisy bener suka sama Dasa kata kamu —perasaang kamu—tepatnya. Tetap ga akan kenapa-napa. Ya paling sih ya, kamu di tolak. Tapi setidaknya tidak sampai patah hati  karena Meisy jadian dengan Dasa.”
“Oh my God. Horisa teman baikku yang paling baik.. Berapa kali sih seperti ini? Barus sekali?”Tanya ku emosi pada Horisa. Ya, ini bukan pertama kalinya gadis yang aku suka melirik Dasa. Tapi yang sebelumnya memang tak seperti ini. Rasa suka Aku tidak sebesar ini. Horisa mengeluarkan Lolipop dari mulutnya da baru mulai bicara.
“Gera teman lamaku yang paling setia. Buka mata aja dehya~ kamu tahu kan,tampang Dasa tuh lebih….” Mulut Horisa seperti mulai tercekat sesuatu.  Waktu itu Dia pernah mengucapkan hal itu. Ya~ bahwa Dasa lebih Ganteng dari pada aku. “Sorry, Ra”
“Aku tahu.. sering banget denger kok. Ya, kalo lagi main kita bertiga emang sering ngomong begitu. Tapi pas lagi main bukan pas lagi serius gini sih…”Aku mengalihkan pandangan dari Horisa ke arah jendela. Horisa merasa sangat bersalah, Dia hanya diam. Pelayan mengantar kopi yang kupesan. Horisa memesan selagi bisa, hmm capucinno, kesukaannya.
Sial, kok jadi diem begini. “Ra, bener loh ya, Aku ga maksud. Jangan marah ya?" kesunyian terjadi sejenak. "Ra, aku gabawa uang nih..hehe"
“Kebiasaan kamu Ris morotin aku selalu” Horisa tersenyum. Melanjutkan mengulum permen Loli nya itu. Cangkir kopi yang lama sudah diangkat tadi. Tinggal cangkir yang masih penuh ini sekarang. Kupandangi kopi itu warnanya cukup pekat dari biasanya. Sepekat hati ku sekarang ini. Ya Tuhan, itu kata kata indah yang berumpamakan sesuatu yang kelam, sekalam hatiku. Haaah, kuhela nafas ini. Mau berapa kali aku mengumpamakan sesuatu seperti itu.
Kuminum perlahan kopi ini. Yaw! Pahit nya. Mungkin kalo nanti ditolak Meisy rasanya seperti ini. Aku sendiri tidak yakin ditolak rasanya pahit. “Ra..mau pulang jam berapa?”
“hmm?” Kutaruk cangkir kopi perlahan. Kurang lengkap ya minum kopi ga ada rokok. “Habisin dulu ya? Tapi minta bill sekarang aja”
Horisa memanggil pelan pelayang yang sedang melayani pelanggan di meja sebelah. Kusibak rambut yang mulai terasa lengket di kepala. Rambutku sepertinya harus di rapihkan. Rambut Meisy itu lurus, sebahu, lembut aga kecoklatan. Beda banget sama Aku; ikal, berantakan, kasar, hitam.
Terbayang tiba tiba Meisy berjalan bersama Dasa. Parah, cocok sekalit. Pikirku, Kepala ku bergoyang untuk membuyarkan pikiran. Hal itu sepertinya tak perlu. Tapi memang hanya bahasa tubuh manusia yang alami tanpa harus dipikirkan. Tiba tiba panggilan Horisa membantu membuyarkan semua pikiran gila  itu “Nih, bill~”
Horisa senyum senyum. Itu tanda bahwa dia meminta aku membayarkan secangkir kopi nya. Besok aku makan siang gimana ya….tapi buat teman yang menemani satu jam berkualitas penuh kegalauan di senja jingga ini mungkin ini bayaran yang tepat.
Kukeluarkan dompet dari saku celana belakang. Kenapa lelaki suka menaruh dompet dibelakang? Dua lembar pecahan lima puluh ribu rupiah kulepas pergi dari rumahnya. Tak ada uang pas. Fyuuh, masih bisa buat makan siang besok. Untung sekarang akhir bulan. Horisa memberi uang itu pada sang pelayan.
Kulihat sekeliling café, jam segini café lagi penuh penuh nya. Sejam lagi ada band akustik yang biasa tampil. Tapi pulang dan menjatuhkan diri ke kasur, kepala ku rasanya benar benar pening. Lagian Horisa ga boleh pulang malam. Setidaknya Horisa bisa pulang sendiri. Kalo Meisy pasti aku antar pulang deh.
Horisa mulai beranjak dari kursinya. “Gera, ayoo puuulaaang~”
“Itu, Hape gimana Ris?” Selalu. Horisa selalu lupa memeriksa barangnya kembali. Kuambil HandPhone nya dan memasukkannya langsung kedalam tas miliknya.
“Hehe..thanks,Ra”
Jalan keluar melewati pintu smoking area. Kalo nanti ajak Meisy kesini harus duduk dimana? Tempat kesukaanku di tempat tadi. Tapi, kalau ternyata tidak kuat rokok bagaimana. Hari sudah mulai gelap. Langit mulai berwarna biru tua. Selamat Tinggal Senja Jingga. Hari ini aku sudah galau bersamamu.

TTD: Gera. Mungkin pemikiran gila ku selalu membuatku galau
  

Matanya hanya tertuju padanya. Membuat hati ini menjadi panas tak karuan. Sebetulnya apa yang di lihat Gadis itu? kalau kau serius mau tahu akan kuberi tahu dengan senang hati. Dia sedang melihat seorang pria. Dengan tatapan berbinar yang hanya bisa menysesakan hatiku. Gadis yang mulai kutaksir beberapa bulan ini benar benar bisa membuat membuat aku pusing. Padahal kekasih ku yang dulu saja tidak begini…
            Aku bertemu dengannya karena sebuah acara yang dibuat oleh temanku ini. Katanya yah kerjaan begitu. Membuat project design kan ga buruk juga buat nambah pengalaman di luar jalur akademik yang aku pilih. Yah, katanya yang ngajak nya berkerja sama ini masih SMA, lebih muda berarti daripada aku. Semoga ga susah ya kerjasama sama yang lebih muda. Sebetulnya bukan masalah karena sudah biasa kalau anak SMA sekolah lain, tapi special sekolah ini, sedikit banyak punya catatan criminal. Semoga anak anak ini baik baik.
            Hari ketemu sudah tiba. Yang datang menjemput kami di gerbang sekolah mereka sekumpulan gadis SMA. Jadi aku harus bilang WOW? Engga karena mereka biasa aja. Ga dandan aneh aneh seperti rok mini atau apa. NORMAL. Tapi engga samayang satu ini, Dia yang salaman paling belakangan. Kalian harus bilang WOW! Aku tahu langsung ada yang beda sama anak ini. Mukanya imut kelihatan lebih muda dari umurnya, yah seperti teman saya yang satu ini. Ada lagi yang beda, tapi belum tau apa.
            “Di dalem aja “ kata Gadis itu. Tadi memperkenalkan namanya. Ternyata namanya unik seperti wajahnya “Meisy” Seperti nama di novel gitu.
            Sesudah rapat sama Dia dan teman temannya semuanya bubar. Di ruangan tinggal Aku, Dasa teman saya imut ini (lebih tua 2 tahun dariku), dan Meisy.
            “eh tadi siapa namanya?” Tanya Dasa langsung. Wah, Das…udah punya pacar kok…
“Meisy”
“rumah dimana?” entah kenapa langsung kesal aku. Tahan tahan.. yah ga aneh kalo Dasa mau cari cewe lagi, toh bosan karena pacaran kelamaan kan tidak aneh.
“deket SMKN’X’ kak” ya Tuhan. Kayaknya dia mulai tertari sama Dasa. Emang sih dari tadi dia Cuma melamun aja pas lagi ngobrol sambil liatin Dasa. Please Das, yang ini jangan diambil. Hati udah teriak teriak sendiri. Berasa orang lain juga akan dengar.
“Tuh, Ger… deket!” aku langsung tersentak. Ternyata Dasa bukan mau deketin, tapi bantuin aku. Dia emang paling tahu kalu aku pemalu….*cuih*
“minta makan yuk Das?” Yaaah, beginilah nasib orang yang kaget. Asal ngomong. Kenapa ga ngomong anter pulang gitu?
“ga ada orang dirumah. Kapan kapan ya, kakak kakak” sambil senyum. Oh My GOD jantung seperti mau lepas.
Yaah tapi itu sekitar perkenalan awal yang manis. Belum ada pahit nya. Sekarang ternyata saya tahu. Meisy sangat suka nyimpen masalah, tega-an, dan jujur. Kenapa aku bilang jujur? Karena matanya berbicara segalanya. Kalo Dia liat mata saya dia Cuma sekedar merasa aman. Matanya ga berbinar.
Tapi begitu liat Dasa datang setiap pertemuan, rasanya dia seperti pelari yang melihat garis finish. WUUUSH~ berlari cepat kearah Dasa. Matanya saat berbicara sama aku penuh canda tawa, harusnya aku seneng. Tapi kalo liat dia ngobrol ke Dasa penuh dengan canda dan harapan itu tuh JLEB. Yang lebih sedih lagi kalau ni cewe yang aduh gabisa diungkapin sama kata kata ini kena Harapan Kosong atau sebutan kece-nya HARKOS.
Yah sekian. Aku Gera (telat woooy!) akan melanjutkan cerita. Pokoknya kalo nanti akhirnya mau bagus atau jelek kalian harus salto bilang woow (ttd:Gera)

By: Tasa
Dialah Rosaline, si Gadis misterius. Tinggalah Dia di hutan. Dia tidak bisa pergi dari hutan itu. selamanya. Seumur hidupnya. Dia menjadi lemah bila keluar dari hutan itu. Baginya, dengan umur yang tak masuk akal . Bahkan takbisa dihitung lagi oleh orang lain. Semua orang yang seumur dengannya sudah tenang di tanah hutan ini. Ditanah yang dingin ini.
Dia tinggal di sebuah villa di tengah hutan. Manusia biasa tak bisa kesini kecuali dengan keinginannnya yang kuat atau permintaan yang ingin dikabulkan. Bersama pelayannya dan pria berbadan besar dia dapat mengurusi semua keperluanya. Mereka adalah manusia biasa, yang meminta kehidupan panjang dengan bayaran menjadi pelayan setianya. Mereka tak akan membangkang, karena kalau membangkang mereka akan menjadi normal kembali. bayangkan bilang hidup mereka sudah diperpanjang seratus tahun. seperti apa wajah mereka seharusnya sekarang?
Bayaran. Ya, semua permintaan yang dikabulkan nya harus dibayar dengan hal yang paling penting dari si peminta permohonan. Seperti para pelayan itu, mereka seharunya sudah mati karena berbagai hal, entah itu penyakit, atau orang orang yang sudah tak bertempat tinggal dan hampir terkapar karena kelaparan. bukan hanya lapar seharusnya mereka sudah mati tanpa Rosaline.
Rosaline, selalu tersenyum. Walau sudah banyak hal yang menimpanya. Sangat baik, tidak ada kata lain yang dapat menggambarkan nya. Dia bermulut tajam tapi hatinya lembut. Walau bahkan Meisy pelayannya yang paling pertama saat ini tidak tahu seberpa kuat lagi hati sang Nona. Meisy tak pernah melihatnya menangis.
“Meisy,ambil bola Kristal, Gregore, kursi. Kita akan mencari pelanggan” tersenyum sperti biasanya “Ohya, kalo pelanggan nya kondisinya tak memungkinkan kemari, kamu yang kesana ya meisy” dengan riang Rosaline berkata
“Baik nona” Meisty menundukan kepalanya. terkadang teringat mengapa meisy ada disini. Bekas luka dileher itu masih terlihat mengerikan. "oh ya meisy, tolong pakai penutup leher mu" Meisy hanya menunduk dan pergi keluar ruangan.
Di lain tempat, tempat yang terlihat dari bola Kristal, sepasang sehabat. Jessi dan Sissca adalah nama mereka berdua. Mereka bersahabat sejak kanak kanak hingga dikatakan sepasang sahabat yang sangat di impikan anak seusia mereka. Persahabatan yang membuat iri semua orang.  Mereka jatuh hati pada lelaki yang sama, lelaki idaman para wanita di sekolah. Lelaki tampan, jago olahraga, bahkan bermusik. Jeska.
Mereka hendak berkemah ke hutan karena kegiatan sekolah. Hutan bagian luar memang tempat yang umum. Manusia lain bebas masuk sampa batas tertentu. Pembagian kelompok dimulai. Jessi dan Sissca bersama sang lelaki idaman, Jeska satu kelompok.  Disinilah keegoisan mereka masing masing, layaknya seorang manusia muncul. Merekalah calon pelanggan Rosaline. 
"hmmm...Meisy. Mari bersiap" Rosaline tersenyum sambil melihat pemandangan pada bola kristal nya.
Mereka tiba di hutan. Bersiap untuk menyiapkan tenda dan berbagai hal lainya. Jessie sangat dekat dengan Jeska disana, hanay sekedar saling membantu menyiapkan tenda. Namun kecemburuan Sissca melonjak. Rasanya seperti di khianati oleh Jessie, sahabat nya sendiri. Berjalan sendirian dengan kecemburuan didalam hatinya. Gelap, saat sadar dia sudah tidak tahu berada di hutan bagian mana. terlihat seorang sosok gadis muda, berpakaian rapi tepat di depan wajahnya dengan mata yag benar benar hitam.
Rosaline menggapai tangan Sisca yang ketakutan akan menatap matanya. 
"ada yang bisa aku bantu?" tanya Rosaline
"siapa kamu?" Sissca masih sedikit gemetar. 
“akan kukabulkan permintaanmu. Apapun”  semua perkataan Rosaline bergema dalam dalam pikirannya. 
"apapun??" Sissca merasa ini adalah kesempatan.
"tapi bayaran nya tidak akan mudah. Hal terpenting darimu akan aku ambil" namun perkataan Rosaline yang paling penting ini juga menjadi paling tidak di dengar. Emosi, ego, keserakahan sudah menutupi Sissca. "ya apapun akan kuberikan" Sissca sangat bersemangat karena hal ini. Rosaline hanya tersenyum.

Siapa yang tak kaget melihat Jeska bersama Sissca. Itulah pikirnya. Kemarin saat hari kemah pertama, rasanya mereka berjauhan. Jessie merasa ccemburu, kesal, dan benci. Dia berjalan merenungkan hal ini di hutan, seperti hal nya Sissca. Jessie hilang Arah. Tiba tiba di belakangnya ada 2 orang berbadan besar. Mereka menjegal Jessie. Rosaline datang. Tersenyum dengan lembutnya  Dia pun menawarkan bantuan seperti saat kepada Sissca. Jessie merasa sama, mereka tak memikirkan konsekuensinya. Karena amarah yang memuncak, Jessie ingin Rosaline menghilangkan keberadaan Sissca. 
"hilangkan Dia, akan kubayar berapapun" Rosaline sedikit tertawa mengetahuin Jessie juga tidak mendengarnya. "berapapun?" Tapi Rosaline tak peduli. Yang terpenting dia sudah memberitahu akibatnya.
Semua bergemuruh. Angin bertiup. Rosaline tetap tak berekspresi. Hanya sedikit senyum saat tiba tiba Sissca dan Jeska datang di bawa oleh Gregore dan pria berbadan besar yang dimiliki Rosaline yang lain. Tiba tiba Sisca di bawa di tenga - tengah mereka. Sissca meronta saat melihat orang berbadan besar yang mengeluakan sebuah botol mencurigakan.
"Apa itu? tidak? Apa itu??" Mereka memaksa Sissca meminumnya. Jeska hanya diam melihat, sepertinya Dia terpana pada Rosaline.
Sissca meronta, Jessie hanya tersenyum. "Bodohnya" pikir Rosaline. Botol dan cairan warna biru itu mengalir di tenggorokan Sissca. Dalam sekejap Sissca terkapar. Jessie terkaget sedikit, tapi baginya itu juga sebuah kesenangan karena hilangnya saingan nya. Dilepaslah Jeska dari ikatan para pria berbadan besar. Dia berjalan kearah Jessie dan Rosaline. Jessie sangat senang. Tetapi ternyata Jeska berjalan kearah Rosaline.
"Jeska?"
Rosaline hanya tersenyum tipis. Dia berkata pada Jessie “Kuambil bayarannya” Sambil menyentuh wajah Jeska. Ya, hal yang terpenting bagi Sissca adalah persahabatannya. Dengan permintaannya, rasa persahabatan mereka hilang hingga Jessie mampu meminta Rosaline untuk menghilangkan Sissca, dan hal terpenting untuk Jessie selain pershabatannya yang sudah hilang karena Sissca adalah Jeska.
Kini Jessie tak punya apa apa, sahabatnya lenyap menjadi pasir didepannya, karena permintaan egoisnya. 
 "Jangan Sissca!" Badan Sissca berubah menjadi pasir.
“Jessie” Panggil Jeska. Dengan kekesalan ia menepis tangan Jeska di belakangnya. Lalu dia berlari ke arah pasir. Jessie berusaha menyusun kembali pasir seperti membangun istana pasir. Tapi tidak bisa, bahkan pasir yang ada di genggamannya lolos tertiup angin. 
“Ini permintaanmu” Jelas Rosaline.
“Tapi kau tak bilang bahwa Jeska yang kau minta!” Marahnya. Airmata mengalir di kedua pipinya. Sissca. Pikirnya. kenapa Sissca juga hilang
“aku sudah bilang hal terpenting dari milikmu”
“kukira itu hanya materi. Seperti uang?”
“Kau tak mendengarkan ku, Gadis kecil. Aku tak butuh uang. Aku tak butuh harta benda karena aku memiliki segalanya. Janganlah bodoh, kau memang baru akan tahu hal yang terpenting bagi dirimu setelah kehilangannya” Rosaline duduk didepan Jessie dengan wajah serius. Jessie terus meratapi pasir yang ada didepannya. Ya, sekarang itu hanyalah pasir. Gundukan pasir kecil.
“Jessie, maaf. Kau harus tahu, sebelum hari ini tiba aku sudah minta pada Rosaline agar bisa bersama Rosaline. Ini tidak hanya karena karena permohonan mu” Jessie tak mendengarkan.
 Jeska dan Rosaline pergi.
Permintaan Jeska terkabul. Kebebasannya hilang namun dia akan bisa bersama selamanya denga Rosaline. Hanya ada Jessie di tengah hutan. Meratapi semua perbuatannya. Keserakahan dan semua permintaan yang hasilnya kosong. Kenapa dia meminta? Kenapa ia turuti semua emosi, keserakahan dan keegoisannya? Seharusnya bila dia tak meminta pada Rosaline dia masih biasa bersedih bersama Sissca sahabatnya.
Sahabatnya lenyap. Bukan mati. Benar benar lenyap, bahkan di ingatan semua orang. Begitu pula Jeska. Semua tak ada yang tau tentang mereka. Hanya Jessie yang mengingat mereka, merasa tersakiti oleh ingatannya sendiri seumur hidupnya. Mungkin itu juga bayaran, atau itu kebaikan Rosaline agar Jessie mengingat dosa nya.
Prolog:

Berjalan di hutan yang sudah di kenalnya. Seumur hidup dia akan hidup bersama hutan ini. Hutan yang Gadis itu lindungi. Rambutnya sebahu, tapi sangat manis. Kulitnya pucat seperti kertas, sepertinya di sangat jarang terkena sinar matahari.
            Kini sudah malam, hanya ada cahaya bulan yang menerangi samar samar. Harusnya manusia yang taat  sudah tertidur nyenyak di bawah selimut hangat. Tapi aku menunggu saat yang tepat supaya bisa bicara dengannya. Berdiri di balik pohon besar sepertinya tidak berguna. Gadis itu menyadari keberadaanku. Dia mendekat. Dia MENDEKAT!
“dasar wanita tak tau diri!” suara datang dari kejauhan membuat gadis itu menengok kebelakang. wanita yang terlihat leih tua itu mendekati gadis pucat itu. “PLAK!” tak sempat Gadis itu berbicara. Wanita paru baya itu sudah menamparnya telak. Gadis itu mengangkat tangannya membuat si wanita parubaya itu kaku dan terlempar. Gawat. Pikirku sang Gadis sedang sangat marah.
“Tunggu!” kutahan tangan gadis itu. Wanita itu ketakutan dan pergi trrebirit birit. “Apa masalah wanita itu?” Tanya ku langsung.
“Wanita bodoh, kulakukan permintaannya. Tapi dia marah karena membayar jasa yang kulakukan” gadis it terus tersenyum walau dia terlihat sedikit angkuh. Tapi dia sangat cantik.
“aku sudah tahu tentang kemampuamu"
"ooohoo? sudah tau? tidak biasa untuk anak laki-laki mengetahui aku" jawab gadis itu sembil tersenyum. Aku tergagap tapi aku lanjut bertanay.
 Boleh aku tahu apa permintaanya? Apa bayaranya?” Gadis itu tersentak. 
" kau tahu banyak yaaa" Gadis itu memandangku dengan matanya yang hitam...sangat hitam bahkan cahaya tak dapat menembusnya. namun dilain hal matanya memantulkan cahaya bulan dengan indahnya.
“ baiklah...hmm dia meminta agar perselingkuhannya dilupakan suaminya. Hal yang terpenting baginya... cinta suaminya. Hari ini mereka resmi bercerai. Kukira dia akan bicara baik baik. Tapi kau tahu, orang yang menikam itu tak tahu diri. Harus diberi pelajaran. Jadi, apa maumu?” hebat, dia tahu aku ada maksud trsendiri.
“aku ingin jadi muridmu, disini selalu bersama anda” entah kenapa aku langsung terduduk dan memegang tangannya seperti adat abad pertengahan.
“bayarannya?”
“kebebasanku. Kau tidak akan pergi dari hutan gelap ini.”
“disini gelap kalau malam saja loh, lihat malam saja bulan masih bisa menyinari” katanya ketus, sepertinya aku sedikit menyinggungnya.
“tak mau kah engkau menikmati kota di siang hari?” lanjut gadis itu. Dia terdiam sejenak menatap ku lagi. Tatapan itu benar membuatku luluh.

“ayo ke rumahku. Disini bisa ada manusia lain” 
Jam 1 siang. Aku sama anak anak 8Juara pergi liburan atau perpisahan ya? apapun laah itu. Ke villa nya dayana. Jam satu itu rada ngaret dikit berangkatnya, nungguin Tia dari SMA 5 dulu. stelah semua kumpul, masuk deh ke mobil masihng masing. Ada 3 mobil untuk hal ini.
cukup macet begitu keluar Tol Moh.Toha. Pas di nagreg jalan nya itu looh... muter muter. eh salah berkelok kelok. aku naik Mobil nya Dayana bareng , Sarah, Salma, Aghni, Tia, sama daday nya sendiri. dan supir tentunya. Kita terpisah sama 2 mobil lain. akhirnya kita berhenti di Pom bensin, beli tahu sumedang karena udh lapar sekali.. haha.

ada telpon dari salah satu mobil yang bablas jalan. Kami akhirnya janjian di depan SD Sukakerta. Sebrang nya langsung ada jalan. Pas udah ngumpul semua 3 Mobil kita masuk ke jalan itu. Cukup sempit jalannya. maklum memang desa. terus ada 1 tiang listrik yang ngagok banget.. ngalangin jalan laah.

Nyampai di sana.. ya Allah beneran itu si Villa nya gede banget. Kami kira itu segede apa sampai yang punya bisa bilang "maaf ya kalau ga memuaskan" minta di tabok itu bener. Pas ngeliat sekeliling.. ternyata lebih amazing lagi.. ada kandang bebek + danau nya dan burung burung lain. Karena kita capek kita ga perhatiin ada apa aja. Kita ambil koper, masuk deh kamar. Kamar laki-laki di atas yang perempuan di bawah.

dari kamar kita yang di atas, dan memang villa yang agak di bukit ini membuat indah pemandangan sunset nya.. ampuun ga akan lupa banget, apalagi pas kita hitung mundur. wiih rame daah .

Habis itu kta nunggu adzan Maghrib. pada sholat aja semua. Terus kita di suruh makan di saung. Saung yang seluas ruang tengah rumah saya ini pemandangan nya indah banget. Hamparan sawah keliatan deh. Terus ada ayunan, enak deh buat galau. :)

Sehabis makan, sholat isya, ngobrol di saung, main kartu, main gitar, dan yang lainnya. Terus di suguhin yamin tengah malam. (Bersambung!)

Setidaknya Senyum lah pada orang yang kau sayangi, agar rasa sayang mu tersampaikan walau hanya sedikit.
Katakan iya bila Kau suka, walau nanti mungkin akan tersa sakit.
Jangan katakan “tidak” hanya karena rasa malu, karena nanti akan menyesal.
Katakan Tidak pada hal yang Kau tidak suka, dari pada kau disuruh melakukan hal itu.
Jangan katakan mungkin pada hal yang kau tak suka, karena itu hanya akan membuat bimbang.

Berikan senyum terbaik di sepan orang itu, bila kamu tidak bisa jujur padahal yang kau sukai,
Berikan sikap tegas tanpa bicara, bila kamu tak bisa jujur karena hal yang tidak kamu sukai

Mengenai Saya

Foto saya
Since 1996 Delusional
Tasa Sri Inten Puspitasari. Diberdayakan oleh Blogger.

Followers

Berbagi lah disini

Pengikut