This post is about mood board that I made throughout 2018-2019

lifestyle board for ImPerfect - Katazome Inspiration

moodboard board for ImPerfect - Katazome Inspiration

Summer 2020 by tasasip

Fall 2019 by tasasip

Fall 2019 by tasasip

Spring 2019 by tasasip

next time I will post it individually, not a batch like this :) 
thank you



I know someday that you would leave me.
Like ours friends did
Not because you not love me anymore,
but because you love me that much
you won't leave me even I already told yo to....
but I know someday you have to leave me.
leave me alone in eternity

You believe it would make me lonely without you.
Of course it is.
But watching you wither.. your energy fading
it's hurt me more.
Your smile that you always show me,
make me hurt even more.
and love you more.

I know..even I'll have eternity at this world
I would never found someone like you anymore.
and I dont want to.

i want you to leave me
go with everyone else.
So I don't have to watch you like this.
Under the morning sunrise in your comfort chair.
Right now..what you can do is smile to me.

"I'm sorry...you have to suffer alone" I said
but you still smiling.
"you should go to another place when you have a chance.
so you wouldn't suffer here alone just with me"
and you smiling again.
"It's hurt for me too watch you like this"
but you answer this time

"thanks for bearing with my ego all this time"
I don't like this
"it's not for you afterall, but for me...I just can't live without you"
His sound is so small
"I'll die ages ago if I leave you alone..if I'm not follow you..
you will gone forever without a trace, and I can't stand that"
He touch my cheek with his small hands.
'Thanks..and sorry you have to be hurt like this,
you are the one that suffer the most
even I promise I will always protect you"

I shake my head.
"I should thank you more..."
his hand fall
so do my heart breaking
but his smile blossom for eternity in his eternal sleep.

I just cry one for all...

may earth give your body warm hug
may sky give your soul beautiful place
with all our friend
let we meet again in the sky, and I will tell
you my story, then I will see your smile again.


by. tasasip
When the earth is not longer..
not longer wants me to come back to him.

I hope...
I hope  sky will welcome me.

But.
One by one..my feathers plucked out
one by one they fell to the ground.

I...Can't fly anymore.

And how about sea?
By drowning in eternity?
Dark..and sun won't reach me.
hmmm
I don't like loneliness afterall.

So here I'am.. on the ground.
Blending.
It's hurt when one by one they left me
cause sky calling their soul,
cause earth longing for their body.

Was drowning and being hugged by sea is a better option?
And then I see a smile at their face.
It dazzled me, but what's this warm feeling inside my heart?

aaah... I have to protect that smile.
even it mean, I'll be hurt again and again.

inspired by Wonder Women Movie

Sorry for the bad grammar.
Sincerely
Tasasip



Sebuah kafe kecil di sudut jalan perbelanjaan menjadi pilihan nya untuk menikmati hari itu. Suara lonceng terdengar saat pintu terbuka. Para pelayan menyambut nya masuk. Dia menempati tempat yang selalu dia duduki. Di meja kecil dengan sofa untuk dua orang disebelah jendela, Dia bias melihat semua orang yang lalu lalang di luar. Jam di lengan kanan nya Dia lirik. Masih sekitar setengah jam dengan waktu perjanjian.
                “Nona, apa nona sudah siap memesan?” kata seorang pelayan pria yang sudah biasa di lihat gadis itu.
                “ooh tentu. Seperti biasa yang aku pesan ya? Tapi gula nya tolong dikurangi sedikit” Gadis itu berkata sambil mengeluarkan buku kecil dari tas nya. Beserta beberapa pensil dan sebuah penghapus.
                “baik nona, silahkan tunggu sebentar” pelayan itu pergi. Suasana tempat ini selalu nyaman. Tidak terlalu ramai, wangi kopi yang beraneka ragam, dan tentunya rasa kopi yang sangat sesuai dengan cita rasa gadis itu membuat Dia senang datang kemari setiap saat sebelum ada pertemuan atau aktifitas menunggu nya. Pesanan nya datang dengan cepat. Diletakan disudut meja, membiarkan aroma nya terbang ke penjuru ruangan. Sambil menunggu waktu berlalu gadis itu menorehkan coretan coretan pada buku kecil nya. Melatih tangan nya walau di akhir pekan.
                Sesaat gadis itu berkonsentrasi pada buku kecilnya, sesorang melewati kaca kafe itu dan bayangan nya membuat sang gadis menoleh kea rah luar jendela. Dia tahu punggung pria itu, dia tahu aura pria itu, dia tahu wajah, hidung, cara berjalan…..dia tahu pria itu..pria yang bayangan nya menemukan gadis itu. Pria itu terus berjalan, dia tidak sadar akan adanya gadis itu.
                Sang gadis terkesiap, meneguk kopi yang mulai hangat hanya setengah gelas, mencari selembar uang di saku dan menaruh nya di meja dengan cepat, memasukan semua barang nya tanpa ditata, “uang nya kutinggal di meja!” menarik jaket yang ada dikursi, berdiri dan hamper terpeleset tapi dia terus belari menuju pintu. “nona kembalian nya?” kata sang pelayang saat dia sudah ada di depan pintu dan siap berlari. “ambil saja!!” Suara lonceng pintu kembali berbunyi untuk kedua kali oleh gadis itu di pagi hari ini.
                Gadis itu berlari menuju arah si pria itu pergi. Mencari di balik kerumunan. “permisi!!” dia menyalip orang-orang di depan nya. Hingga punggung pria itu terlihat. Lalu pria itu berhenti di dekat sebuah dinding toko pakaian, saat melihat wajah pria itu, sang gadis yakin pria yang dicari dan ditunggu telah tiba.
*****
Di sebuah ruang kelas dan penuh dengan suara teman temannya yang berisik. Sebentar lagi kelas akan dimulai tapi beberapa tugas kecil belum gadis itu kerjakan
                “aku pinjam ini yaa?” kata gadis itu pada seorang temannya. Saat temannya sudah mengijinkan sang gadis meminjam catatan dari teman nya tiba tiba ada suara kecil “eee… hei!” sang gadis menoleh sedikit tapi dia tidak mengetahui siapa yang memanggilnya. Hingga akhirnya dia berpaling begitu saja. Anak laki laki manis bersembunyi di balik tundukan nya setelah melihat sang gadis menoleh. Teman teman disekitar anak laki laki itu hanya tersenyum usil pada nya.
                Seorang guru mulai memanggil nama murid baru nya satu persatu. Ada sebuah nama yang membuat sang gadis ingin tahu siapa yang memiliki nama yang sangat mudah dan biasa itu. Seorang anak laki laki manis berdiri di meja paling belakang. Membuat rasa terkesan yang membekas.
                Sepulang sekolah saat sang gadis sudah bersiap untuk pulang, anak laki laki manis itu mendekati bangku nya. “mmm itu…eeee ituu..aku mau tanya sasuatu tentang pelajaran tadi, boleh minta nomor untuk dihubungi?” tanpa sadar wajah gadis itu merah dan dia tertunduk malu, teman sebangku nya mulai tersenyum usil. Sang gadis segera mengeluarkan secarik kertas dari buku kecil nya, menuliskan kan serangkaian nomor dan meninggalkan nya dimeja dengan segera. “aku duluan” dia hanya tersenyum sebentar dengan wajah merah nya dan berlari keluar kelas. Dia tersenyum lebar, menantikkan apa yang akan terjadi.
                Anak laki laki itu lebih kecil daripada sang gadis sehingga membuat sang gadis sering usil padanya. Mereka mengejek satu sama lain, bertengkar, berbaikan, bercerita satu sama lainnya. Pulang bersama dan meninggalkan teman lainnya menaiki bus dan tertawa melihat temannya yang berusaha mengejar bus yang mereka naiki.
                Mereka sampai peada sebuah tempat dimana sang gadis, anak laki laki dan semua teman temannya berkumpul. Mereka dikejar mengililingi tempat itu karena meninggalkan teman teman lainnya. Mereka semua berlari….berlari kesana kemari hingga teman temannya kewalahan dan tak mengejar lagi “aaaa sudah ah kalian berdua itu pasangan yang terlalu enerjik!!” sang gadis yang malu menjatuhkan diri di sebuah bangku taman begitu pula dengan sang anak laki laki. Mereka berdua terdiam tapi saling melihat satu sama lain. Melihat muka mereka yang lelah, berkeringat, dan memerah entah karena malu atau berlari entah berapa lama membuat mereka berdua tertawa. Tawa yang tak bisa dilupakan.
*****
Gadis itu ingat semua detil saat mereka pertama bertemu. Anak laki laki itu sedh tidak kecil dan manis namu sudah menjadi seorang pria yang gagah di matanya. Dia berusaha menghampiri sang pria dengan perlahan tapi langkah nya terhenti. Gadis itu teringat sesuatu. Waktu dimana mereka berdua tak berbicara lagi. Tidak saling menatap mata…tidak, saling menatap wajah sekilas pun tidak pernah lagi.
                Sebuah lorong sekolah sang Gadis melihat anak laki laki itu semakin berubah. Mereka yang sudah tidak di satu kelas lagi tidak pernah saling berbicara kembali. Sekedar bertukar senyum pun tidak, mereka saling melewati dengan grup pertemanan yang berbeda. Sang gadis berusaha dengan keras tetap ceria, jadi kalau sang anak laki laki itu terlihat menoleh padanya dari pelupuk matanya dia sudah tersenyum. Tapi tidak…sang anak laki laki bahkan tidak menoleh sedikit pun. Sang gadis terhenti sekejap dari langkah nya, ingin memanggil nama anak laki laki itu yang sudah ada di ujung lidah nya selama berbulan bulan…tapi dia hentikan. Seorang teman nya mengetahui bahwa sang gadis menghentikan langkah nya..dan memanggilnya “ayo cepat! Nanti kelas keburu mulai” sang gadis langsung menoleh dan tersenyum kembali dengan lebar. “iya sabar!”
                Pria itu mulai berjalan di depan sang gadis. Dia memngingat satu hal lagi. Di dalam kelas itu..dia berteriak karena malu..”aku gak suka kamu kok!” sang gadis kaget dengan kata yang keluar dari mulunya sendiri. Meninggalkan keheningan sesaat di kelas. Membuat anak laki laki marah dan melemparkan sesuatu dan dia pergi keluar kelas. Anak anak lain melanjutkan keisengan mereka “bohong ah bohooong, kalo iya bilag ajaa” keributan itu memudar dan berganti kembali dengan keributan kerumuna pejalan kaki di depan gadis itu di daerah pertokoan ini.
                Kerumunan yang lewati sang gadis terus menerus dan dia hanya terdiam melihat punggung sang pria seperti saatu itu. Saat wisuda kelulusan mereka, dimana sang gadis hanya bisa melihat punggung anak laki laki yang sudah mulai tegap, lebar, dan gagah melewati kerumunan anak anak peserta wisuda lainnya menuju gerbang keluar sekolah. Sang gadis masih diam, berharap sang anak laki laki akan menoleh dan menyapanya seperti dulu. Namu tidak. Dia terus berjalan sama seperti saat ini anak laki laki yang sekarang sudah menjadi pria yang dia kagumi sang gadis bertahun tahun tetap tak menoleh padanya.
                Namun langkah sang laki laki terhenti. Kerumunan di depan sang gadis memudar sebentar…tepat disaat seorang wanita menarik tangan sang pria. Tersenyum kepada sang pria dan sang pria membalas senyum sang wanita itu dengan manis…senyum yang ditunggu tunggu sang gadis tahunan lamanya sudah menjadi milik wanita lain.. sang gadis membatu disitu. Kembali menundukkan kepalanya dan berusaha tenggelam di balik kerumunan. Tapi dia terus berjalan kedepan dan berusaha melihat wajah bahagia  orang lain itu walau sesuatu hendak meluap dari dada dan matanya.
                Sang pria dan wanita itu berbalik arah dan berjalan menghadap sang gadis. Sang gadi berusaha dengan keras tersenyum seperti di lorong sekolah dulu. Jadi bila tiba tiba sang pria menyapa nya sang gadis sedang tersenyum. Tapi tidak sang pria tak menyapa nya. Rasanya pahit tapi sang gadis tetap berusaha tersenyum,
                “hei..!!” sang gadis terhenti dari langkah nya. Menarik nafas dan berusaha tersenyum sambil menoleh
                “hei juga!!” dengan senyum yang lebar dia melambaikan tangan nya. “cieee” dengan senyum usil yang biasa dia lakukan saat semasa sekolah dulu dia melirik anatar sang pria dan wanita itu. Wajah sang pria dan  wanita itu memerah. Dan sesaat itu sang gadis itu tahu bahwa benar benar tak ada tempat untuknya dihati sang pria yang sedang barbahagia itu. “eeemmm” sang gadis sudah tak bisa menahan senyumnya lagi “aku duluan ya sudah ada janji, daaaah” sang gadis membalik badan nya dengan berlari diantara kerumunan.
                Dia terus berlari dan tak ada yang mengejarnya. Dia berlari sendiri dan tak ada yang berlari bersamanya seperti dulu. di kerumunan yang ramai ini dia sendiri berlari…berlari dari masa lalunya dan tak menoleh. Tapi nafas nya habis, rasanya ada yang mengganjal nafas nya, dia terduduk di sudut jalan, ada yang meleleh di balik kelopak matanya, ada rasa sakit yang keluar dari dadanya.
                “oii..! kamu ngapain nangis disini?” suara dari balik punggung nya, dia menghapus air matanya. Gadis ini tahu siapa saja yang mendekatinya. Berkata tanpa nada simpati tapi penuh perhatian di baliknya
                “dia bête tuh nunggu kita kelamaan, apa nyasar? Masa nyasar disini sih?” suara usil yang terdengar tapi tidak membuat jengkel kali ini.
                Aku….oh iya gadis itu adalah aku..membasuh mata ini. Mencoba tersenyum berbalik ke arah mereka yang berdiri membelakangi matahari dan bayangan nya menutupi pandanganku
                “eh…kalian tahu ga tadi aku ketemu siapa?” dengan perasaan yang lebih ringan aku melihat mereka semua.
                “haaaah? Siapa” kata seorang anak perempuan yang langsung menggandeng tanganku untuk berdiri.
                “hmmm siapa yaaa~~~” jawabku usil. “TUHKAN GA PENTING” mereka berteriak bersamaan, dan membuat perasaan ku semakin ringan. Walau pria itu tak di sebelahku. Walau bayangan nya yang menyapaku lebih dulu. Tapi disini ada mereka lebih berharga dari pria itu. Karena bayangan mereka menyapaku bersama dengan pemiliknya.


Source picturee: 9gag/Ao Haru Ride fans picture

Aku masih kehilangan bicara ku
Tiap bayang nya lewat di depan mataku

Aku kehilangan pikiran ku
Tiap dia benar ada di hadapan

Lalu Aku kehilangan rasa di lututku.
Rasanya hendak jatuh di saat itu juga
Tapi ku kuatkan langkah ku.
Ku tegarkan senyum ku.
Perkuat gerak tangan ku.
Agar dia berfikir, aku, tanpa nya, kokoh.

Sungguh Dia tak pernah tau, berapa banyak tangis tiap malam agar bisa tersenyum, terbaik, terindah, dan teramah ditiap pagi yang di tempuh.

Tapi dia berkata, layaknya hanya rasa kasihnya yang patut di jaga.
Pikir aku sekuat besi, dingin, tak peduli, tak berasa.
"Tangis nya tiap malam saat tahu aku hubungi kau"
Tangis ku dalam hati siang malam saat ingat dia tak bisa disini. Di samping ku.
Tak ada lagi senyum tiap dia sebut aku.
Tak ada lagi senyum hangat yang berbalas sudi ketika ku senyum padanya
Tak ada senyum dari sepenuh hati ini, karena toreh luka.

Aku lelah. Tak ada ku niat benci pada dia dan kasihnya.
Tapi seorang berkata "hati mu saja kau bohongi. Bagaimana orang lain"

Walau itu, hanya sebatas ini. Sebatas rangkaian kata tidak baku. Sebesar inilah rasa marah dan benci yang boleh aku rasa.

Cukup. Karena dunia sudah tahu. Tahu siapa aku, dia, dan kasihnya.

Layaknya cangkir. Itulah aku memggambarkan hati manusia.Cangkir yang indah menandakan hati yang cantik pula. Cangkir cantik...sekuat apapun terlihatnya sebetulnya rapuh. Sekali nya mereka hancur, akan seperti kumpulan puzzle yang sulit. Akan selalu ada bagian yang hilang.

Agar terlihat tetap sempurna kadang tangan ini membantu. Membantu agar bagian yang rusak itu tertutupi. Berusaha agar tak ada isinya yang keluar selama sedang menampung. Tapi saat tidak ada orang yang harus di perlihatkan cangkir cantik itu lagi, sang tangan beristirahat dan membiarkan semua isinya lolos. Dan terus berulang...ulang...dan ulang.

Tapi tahu kah kau? Menyentun cangkir yang sudah tidak sempurna itu menyakitkan. Menyayat tangan dengan goresan kecil. Hingga mungkin suatu hari nanti sang tangan akan melepaskan pegangan nya pada cangkir, dan biarkan cangkir menjadi ber keping keping.

Suatu saat nanti. Bila tangan ini sudah tidak terluka. Kususun kembali cangkir cantik ini, agar selalu ada orang yang hendak melihatnya. Agar ada orang yang hendak mengisi nya kembali dan mungkin akan ada tangan lain yang membawa cangkir nya dan menyempurnakan kedua cangkir itu.

Pa, inget ga? Waktu kecil aku selalu minta gendong, kuda kudaan dan aksi aksi heroik kecil lainnya? Sekarang sudah ga bisa..aku sudah terlalu besar.

Ma, inget ga? Waktu kecil aku pernah lari lari, padahal sudaha di bilang "awas jatuh" tapi aku tak memdengar. Lalu aku terjatuh, dan menangis. Sekarang, jatuh tidak se sederhana arti dalam kamus.

Pa, dulu aku selalu kesal di antar jemput. Ga bebas. Sekarang, pulang sendiri tuh kadang lelah rasanya.

Ma, dulu aku selalu pilih pilih makanan buatan mu. Walau sampe sekarang juga masih, tapi suatu aku akan rindu ras masakan rumah itu.

Pa, ingat waktu nilai ku hancur? Disana cuma ada kau yg membantu aku berdiri menghadapi hal itu. Saat ini hal itu harus aku hadapi sendiri.

Ma, waktu kecil saat sakit disana selalu ada dirimu menjaga keadaanku. Aku berantem dengan saudara saudara ku hingga kami menangis, tapi tertawa bersama 5 menit kemudian.

Sekarang...aku rindu saat kecilku. Dimana hidup selalu di bantu oleh kedua orang tua ku. Saat bahagia mudah di dapat. Saat cinta berarti kasih sayang orang tua.

Aku mengerti rasa khawatirmu adalah rasa takut bahwa aku tak siap menghadap dunia. Karena nyatanya dunia tidak seindah dunia dongeng yang kau ceritakan menjelang tidur dulu. Karena dunia memiliki sisi tajam di tiap sudut nya. Karena kau takut aku terlalu rapuh keluar dari sarang.

Hanya satu pintaku..bila suatu saat nanti dunia ini membuatku tak punya tempat bergantung. Bolehkah aku datang kemari? Dirumah ini? Kerumah dimana aku dibesarkan, dimana kalian berdua selalu ada. Sediakah menerima keluh kesahku?  Dengan senyum kalian...karena kadang aku hanya ingin menangis seperti bayi kecil di depan kalian.

Suasana di balik pintu kaca ini sangat hiruk pikuk. Pada raga nya sudah terdapat banyak alat yang tidak aku kenal. Mereka berusaha..berusaha membawa nya kembali. Membawa kembali sahabat ku....emosi ku sudah tak dapat ku kontrol. Aku mengejapkan mata.

*

Aku membelalakan mata. Nafas ku tersenggal. Hari sudah terang. Semalam Dia mengajak aku berjalan jalan. Tumben. Pikirku. Tapi aku terlalu bahagia untuk.menayakannya. "jam 9 ya, Rin" tulisnya.

Mandi, berganti pakaian. Berulang Kali aku bercermin. Pgymadahal hanya jalan dengan sahabat..tapi aku juga tak mengerti apa maunya hatiku ini.

Dia menjemputku dengan skuter kecilnya. Aku tersipu. "sudah bilang ke Nana?" kata ku dari belakang punggungnya.
"ha? Oh iya udah" Dia sungguh banyak tersenyum. Tapi agak ada binar sedih dimatanya.

Kami mapir di tempat bubur ayam kesukaan Kami. "aku yang bayar ya. Kan utang" celanya di tengah nikmatnya kehangatan bubur.
"serius? Cie kamu tumben banget~" Dia hanya tersenyum. "nape lih?" Dia.hanya tersenyum lagi dan aku kembali makan.

"aku traktir es krim yang di jalan itu ya? Itu loh yang deket sekolah kamu itu, lih" galih hanya mengangguk sambil tersenyum. Binar sedih nya masih terpancar. Denan skuter yang sangat pelan sekali dan berputar putar.
"lih..lewat mana sih?"
" kalo sampe sana belum buka gimana? Mending kan puter puter dulu" padahal biasanya Galih diajak makan sekitaran rumah aja dia susah setengah mampus. Hari ini dia kenapa sih..oh iya toko es krim itu buka jam 10 pagi, kita sudah keliling 1 jam sejak jam 10 tadi....

"rasa apa?" Tanya Galih saat skuternya dia parkir depan kedai eskrim.
"mint ada kan ya?" aku merogoh saku.
"aku yang bayar yah?" dia langsung melesat ke dalam kedai.

Galih membawa es krim mint punya ku. Dia membeli es krim choco chips. "nanti ke pertokoan dulu ya. Mau liat liat" aku mulai khawatir. Aku iyakan kemana saja dia mau pergi. Ke mall, ke restoran, bahkan Kami berfoto dengan badut di mall hingga lupa waktu.

Sudah sore. Galih duduj disalah satu kursi taman. Lembayung senja mulai datang.
"kapan kapan gini lagi ya?" kata ku memulai pembicaraan.
"gak bisa.."
"Nana ya? Duh pasti kamu lunasin utang kamu ini biar bisa konsen sama Nana. Mau lupa sana sahabat nya ini."
"sama Nana aja juga ga akan bisa"
"kamu mau pindah?" aku mulai bingung.
"iya...ga akan balik lagi"
"kemana Lih?"
"Kesana" Galih nunjuk keatas langit lembayung senja. Aku mulai gemetar.
"Lih...serius ah...?" Mata ku mulai kabur.
"Rin..maaf ya hutang aku baru aku lunasin sekarang. Maaf ya harkos terus diajak makan. Makasih ya udah nemenin aku hari ini. Titip Nana, Rin. Jaga diri kamu. Tetep inget aku, sahabat kamu disana, dilangit, liatin ngawasin kamu." air mengalir di pipi. "jangan nangis, Rin." dia kebelakang punggungku. Mengelus rambut, menghapus air mata. Menutup kedua mataku. Tangan nya hangat namun lama lama mendingin.

*

Aku kembali pada kenyataan. Galih di dalam. Dia kecelakaan semalam. Aku terbangun tadi pagi karena beribu notif di handphone. Aku terbangun dari mimpi indah dan gemetar. Harap hanya mimpi.belaka.

Nana sudah duduk lemah. Aku di depan pintu ini berdoa untuk sahabatku Galih tanpa henti. Tuhan, aku belum beri tahu akan rasaku padanya. Beri aku kesempatan.

Tapi ini rencanaNya. Garis hijau di pojok.sana menjadi lurus. Aku berteriak. Tapi Galih tidak akan dengar dari luar sini. Orang orang di belakangku berusah menenangkanku. Aku ingin kesana! Disebelah Galih!! Aku terus berontak. Namun aku kalah...Aku tak kuasa, otakku tak jernih. Semuanya menjadi kabur. Hilang dalan gelap. "Galiiih..." lirih ku.

*
Pagi cerah aku kembali terbangun. Mimpi buruk. Kuharap hanya mimpi buruk. Tiap malam air mata ini terus membengkak. Aku membuka handphone.
"jam 9 ya, Rin" aku melihat nama pengirimnya. Aku kecewa.

*

Taman nya kecil. Namun rapih. Hari ini banyak bunga bertabur disana. Ya..ini tempat Galih terakhir tertidur nyenyak. Untuk selamanya. Sudah setahun ternyata. Tapi mimpi indah, dan buruk itu berputar hingga ratusan Kali hampir tiap malam.

Aku kesini bersama beberapa teman. Aku menangis melihat ruang kecil itu. Nana sepertinya tadi datang. Ada bunga kecil khas pemberian Nana.

Duduk di sebelah nisan nya. Kutaruh setangkai mawar kuning Dan putih tanda sahabat Dan cinta suci. Semoga dengan ini tersampailah isi hatiku sebenarnya padanya....

Coba sedikit kamu buka hati kamu. Tutup mata. Bayangin rumah kamu. Saat pagi, matahari yg menyusup lewat jedela siang hari, kehangatan saat malam datang.

Sebetulnya kamu sadar semua akan hilang. Tapi pura pura ga sadar.

Suati hari nanti. Saat sapa pagi papa tak terdengar lagi. Saat sarapan mama tidak sedia lagi diatas meja. Saat saudara mu mulai meninggalkan rumah karena kesibukkan nya. Saat itu mungkin sudah terlambat.

Dulu saat ruang makan penuh dilewati suasana yang khidmat. Ruang tengah penuh tawa.  Disana dulu aku bermain dengan saudara saudara ku. Jail. Nakal. Celoteh. Cerewet. Berisik.

Dulu di kamar saat sakit. Papa mengelus kepala, mama membawakan makanan, kaka/adik mengintip di balik pintu. Tersenyum. Membawa mainan.

Beranten, nangis, baikan, main lagi. Itulah saudara. Tidak ada lelah minta maaf dan memaafkan tanpa diucapkan. Selalu ada alasan dibaliknya.

Papa marah karena aku pulang telat. Ya, sudah sedikit waktu kuluangkan dirumah.

Kulihat kamar kakak ku kosong, mereka sibuk masing masing. Kami bisa tidak bertemu beberapa minggu.
Saat kulihat keluar kamar. Ternyata semua kosong saat ini. Sepi. Suara TV terdengar samar. Kulihat keliling. Sunyi. Memikirkan kenapa aku pulang cepat hari ini. Lelah dengan rupaku sendiri yang sudah tak sanggup memasang senyum.

Senyum berusaha seperti aku bahagia. Tidak ada apa apa. Tapi batin ini berteriak. Ini sudah batasnya. Ke beranjak pulang, selalu disini aku bisa melepas topeng ku. Senyum ku hilang semua mengalir.

Lalu akhirnya seseorang datang. Bertanya akan aku yang sulit tertidur akhir akhir ini. Dia selalu bertanya. Biasanya aku diam. Tapi Kali ini aku malah bertanya.
" kalo semua orang di dunia benci aku, masih mau sayang sama aku?"
"jangan ditanya. Pasti. Mas juga pasti sayang. Makanya kalo ada apa apa sini cerita, kan keluarga ga akan lah bocor. Haha kamu kenapa?"

Kupeluk mereka satu satu. Inilah aku yang sebenarnya. Aku yang cengeng. Takut akan masa depan. Takut akan pandangan orang. Diam seribu kata. Hanya ini tempat dimana ada keluarga ku tempat dimana bernama rumah untuk aku pulang. Yang mungkin suatu hari akan sepi.

Dari huruf jadilah kata. Dari kata jadilah kalimat. Tapi, ada satu kata yang spesial. Selalu sepesial dipikiran semua orang. Cinta.

Hanya 5 huruf, tapi butuh seribu bahasa untuk mendeskripsikannya. Bahkan mungkin lebih.

Satu kalimat yang paling sulit di ucapkan "aku cinta kamu" rasa sulit itulah yg membuat kalimat ini lebih berarti. Kalo mudah bukan cinta namanya.

Cinta itu dibuktikan bukan hanya di ucapkan. Itulah salah satu kalimat dari novelis. Kalo kalian Baca pasti tau siapa.

Dari kalimat tadi di rangkai. Halaman demi halaman menjadi sebuah cerita. Memiliki permulaan Dan akhir.

Layaknya ftv kawan. Tapi, mungkin kita belum jadi pemeran utama. Belum mendapatkan kesempatan bahagia. Kita lah si pemeran pembantu. Tuhan lebih berencana.

Cerita cinta selalu menjadi cerita paling dicari. Jangan manisnya yang di ingat
Ingat pahitnya si pemeran utama cerita itu. Kalau lagi patah hati , mungkin kita sedang di bagian pahit cerita kita.

Ya..aku disini sedang terdiam. Menatap keluar jendela. Mengingat seribu cerita cinta yang aku ingat. Akankah salah satunya akan jadi ceritaku?

Tidak. Cerita ku harus kutemukan sendiri. Kuciptakan sendiri dengan bantuan Tuhan yang sudah menyiapkan seribu alur cerita. Tinggal kupilih dan jadilah cerita yg lebih manis dari gula atau lebih pahit dari obat yg memberi kekutan dan kesehatan.

Maaf ngalor ngidul rasanya tulisanku Kali ini. Masih belajar :) terimakasih.

Aku jatuh hati pada dia.
Dia yang pernah kusakiti hatinya.
Dia yang pernah kuhancurkan akalnya.
Dia yang pernah aku lewatkan begitu saja.

Tak pernah kubayangkan akan ini.
Hati ini seperti meminta.
Memulung harta yang sudah diberi pada lainnya.
Seperti hampir kehilangan harga diri.

Karma kah ini? Dulu ku tak peduli.
Sesal kah ini? Menyesal selalu terakhir.

Kupandang Dia disini.
Sungguh bodoh Aku.
Tak sadar akan hatinya yang seputih salju, yang dulu perlakukan aku bagai ratu.

Cinta datang terlambat.
Terlalu lambat.
Kesempatan kedua hanya angan.
Dia pun hilang dari genggaman.

Tuhan, sesal itu datang terlambat.

Dingin malam menusuk tulang.
Rasa sakit menusuk dada.
Mataku terpana. Terdiam di balik meja.

Lidah ku kelu.
Pipi ku bersemu.
Tanganku gemetar.
Merah bibir ku pudar.

Hendak kusapa dirimu.
Namun kau melihat ke belakangku, melewatiku.
Kutengok lewati punggungku.
Kau...menggenggam tangan nya, mengecup manis keningnya.

Aku kembali meluruskan pandang.
Kulihat secarik kertas.
Kata cinta berhenti di ujung pena.
Separuh pudar.
Air mata ku ada disana.

Itu hanya bayang masalalu.
Membayangiku dari belakang.
Takkan lagi kumenengok kesana.
Agar tak kulihat bayang gelap.
Bayang gelap retak.
Bayang gelap cinta.

By.TasaSIP

Ini cuma sebuah permintaan kecil. Sebelumnya mari kuingatkan kenapa aku minta ini.

Ingat waktu aku SD, dimana aku jarang sekali main kerumah teman temanku, berbeda dengan yg lainnya. Mereka saling mengunjungi satu sama lain. Alasan ku delalu ada dirumah hanya karena "tidak ada yg jemput" karena itulah aku berniat agar bisa pulang pergi sendiri dengan angkutan kota. Agar bebas kemanapun aku suka.

Ingat pas SMP? Pulang sekolah sudah terlalu sore bila bermain. Selalu langsung pulang dengan angkutan kota. Berhenti di dekat rumah sehingga jam 5 paling lama sudah dirumah. Menghela sabar bila HP berdering. Pucat pasi kalau belum sampai rumah HP mati. Sampai rumah; sendiri, ga ada teman, sepi.

Sekarang saat SMA dimana aku sudah bisa pergi sendiri, pulang sendiri. Kuharap waktu sedikit longgar. Iya sedikit lebih longgar tapi sapaan dingin setiap sampai rumah juga makin sering. Dipikir apa aku ga takut di angkutan kota sendiri malam malam? pengen aku sampai rumah cepat ga kenapa ga dijemput? Aku tau sampe mana batas dimana aku bisa sendirian. Aku pergi dengan cara ku dengan cara sendiri, ya aku akan pulang sendiri dengan caraku. Alasan yang aku buat bukan omong kosong.

Akhir akhir ini cuma sedikit berat. Semua bilang aku harus sabar dan santai. Tapi semua tuntutan secara ga langsung ini cukup jadi beban. Entah Ujian ku nanti, Kuliahku nanti, sekolah. Haaaa di omongin gini ga akan selesai. Gacukup pakai kata kata.

Aku cuma butuh sedikit waktu pa, ma. Dimana aku bisa seharian penuh di hari libur bersama teman teman SMA ku dari pagi hingga cukup petang. Tinggal beberapa bulan lagi lho aku bersama mereka... dan masa itu takkan kembali. Kuliah nanti juga akan jarang ketemu karena perbedaan jadwal masing masing.

Dan satu lagi. Aku juga cuma butuh satu hari dimana aku bebas bertemu kedua sahabat terbaikku.

Cukup 2 hari dalam sebulan aku bebas. Ga salah kan? Ga berlebihan kan? Kalo ini di setujui, aku akan berusaha tepati perjanjian ini. Cukup ringan kan?

Aku memang bukan seorang anak yang berbakti, sahabat yang setia, teman terbaik, murid terpintar, kekasih idaman, bahkan bukan sama sekali hamba yang takwa pada Tuhan-nya.

Hanya sedikit rasa rapuh dan takut akan kehilangan itu semua. Hati yang terasa hampa karena kotornya pikiran jiwa. Takut akan masa depan dan hari hari yang kutempuh. Takut akan hilangnya bahagia dengan mereka di surga kecil ku di dunia.

Kosong hampa nihil. Hati ku kotor. Benci akan diri sendiri yang demikian. Kotor nya aku yang berprasangka buruk pada kawannya.

Egois berharap semua anganku akan jadi nyata. Masa depan yang penuh tanggung jawab tak semudah angan pastinya

Aku bertanya tanya untuk apa aku masih berdiri tegak di bawah langit biru. Mimpikku ada disana tak mungkin kuraih.

Aku masih syukuri bahwa diriku masih memikirkan ini. Saat air mata jatuh di atas kehampaan. Bagaimana bila aku bahkan sudah tak peduli dengan apapun. Dengan keluarga, sahabat, teman, guru, dan kasih sayang dari-Nya ini. Tidur selamanya akan indah rasanya.

Aku tak tahu harus apa. Hanya pada-Nya kusembahkan sujudku, meminta penuhi hasrat manusia ku. Angkat semangatku , bersihkan prasangkaku, hadapi hari hari ku, pandang masa depanku, sayangi keluargaku.

Peluklah aku sesaat. Agar aku selalu ingat separah apapun hidupku, semua adalah anugrah-Mu, semua atas kehendak-Mu, dan selalu ada diri-Mu di sisiku.

Masih kau melihat kesana. Disana biasalah gadis sahabat ku itu berdiri. Bercerita dan tertawa.

Mata mu terpaku, pena yg kau mainkan itu terus berputar. Cahaya mathari mulai hilang di terpa awan kelabu.

Aku selalu memperhatikan mu. Bahkan tiap gerak gerik mu. Karena itu aku teringat saat hari itu.

Dimana tangis paling terdengar darimu itu, teriakan hati tak percaya yg hanya terdengar hatiku. Disaat sahabatku itu terbaring diam setelah nafas yang entah kapan berhenti terhembus.

Kau disana menggenggam tangannya yang mendingin dan basah karena tangismu.

Aku terdiam di sampingmu, sahabatku pergi. Kamu yg kucintai terluka sangat dalam. Kukatakan "re...re..ayo re bangun. Aga butuh kamu" tapi itu hanya terucap di hati.

Tak ada tanggapan. Kamu terus terisak hingga aku tak kuat lagi. Isak mu yang sangat menyiksa telingaku. Membuat sadar akan aku kehilangan sahabat terbaikku, sadar akan ketidakberdayaan ku membuat kamu tidak dapat berhenti menangis.

Sore ini aku duduk di bangku yang biasanya ada gadis itu. Tapi kau tetap melihat keluar pintu dimana biasanya kita bertiga bersama.

Sakit memperhatikan air yang mengalir kembali di bola matamu yg penuh harap itu. Harapan akan gadis itu berdiri disana. Aku pura pura tak lihat, karena kau orang yang paling tak mau terlihat lemah.

Kubuka buku di depanku. Tadi kau duduk disini dan menggambar. Gambar sahabatku ada di mana mana. Dari samping, depan bahkan senyum nya yg selalu menemani ku juga di hari hari sebelumnya.

Aku merasa dosa akan rasaku padamu di balik sahabatku. Tapi ku usahakan untuk hilangkan rasa itu.

Akhirnya aku melangkah padamu yg matanya masih tersisa air mata. "ga, kantin yu. kita makan di tempat biasa" suaraku bergetar. Kamu memegang tanganku.

"iyaa..tempat biasa ya?" kamu memegang kepalaku tp ada rasa getar disana. Kamu berusaha tersenyum di depanku.

"iyaa" aku menunduk kerena tanpa sadar air mataku mengalir. Kamu tahu akan hal itu, mengelus kepalaku, merangkul ku sehingga tdk ada yg bertanya kita berdua kenapa.

Hari itulah kita mulai bisa menerima perginya gadis yang tersayang. Menaruh semua kenangan bersamanya seperti harta karun. Karena dia kita bisa berama hingga entah berapa tahun hingga saat ini.





Saat aku mengarungi dunia maya aku menemukan beberapa kata yang nyata namun maya. "Jatuh Cinta" 

Seperti itulah Cinta. Perasaan manusia yang paling sempurna yang paling berwarna-warni dari Tuhan. Seribu kata apapun yang paling realistis di dunia tidak akan bisa mendeskripsikan apa itu Cinta. Deskripsiku ini dasar yang paling ku mengerti.

Cinta itu warna warni. Bahkan lebih lengkap dari pelangi. Lengkap dengan warna gelapnya. Merah Cinta membara, Jingga Kebahagiaan, Kuning Ceria, Hijau Damai, Biru Bingung, Nila rasa Ambigu, Ungu Gudah, Bahkan Hitam yang artinya Sedih dan warna gelap lainnya yang artinya beberapa macam kesedihan, bahkan putih untuk Cinta yang direstui Tuhan.

Sebelumnya apa yang disebut Jatuh pasti menyakitkan, entah hanya sekedar luka kecil, memar, hingga yang parah. Seperti hilang logika, buta, bahkan mungkin tuli. Tak aneh kalau Jatuh Cinta pun demikian. Tuli tak mau mendengar kata orang itu lebih mengerikan daripada buta tak mau melihat orang lain. Logikanya hancur rapuh.

Banyak yang berkata "Buat apa Jatuh Cinta kalau tak bisa bersama" hahaha

Karena Cinta tak harus memiliki. Ini bukan hanya sekedar judul puisi atau lagu. Tapi memang nyatanya begitu.
Dengan merelakan orang yang Kau cintai bersama orang lain akan ada bahagia lainya. Betapa banyak akan rasa syukur yang akan diterima begitu Kau bertemu orang yang tidak akan melepaskan mu dan Dialah bahagiamu?

Long post sudah. Thanks ;) 

Mungkin bodoh rasanya saat ini. Sudah berbulan bulan berlalu sejak hubungan kerja tempat dimana Meisy berakhir. Horisa melanjutkan sekolahnya seperti biasa kembali... Dasa mendapatkan ijazah kelulusannya sebulan lalu. Acara makan makan sederhana hari itu lah yang menyenangkan berubah menjadi menyebalkan sekaligus.

Ditengah acara pesta aku mulai merasakan perasaan yang menyebalkan. Ku usap dadaku dan menarik nafas panjang. Malam minggu walau single tetep menyenangkan kok. Walau diantara 7 orang ini yang tak membawa pasangannya hanya aku seorang. 

Meratapi kopi yang kupesan dari tadi. Mungkin dengan kopi pikirannku bisa sedikit tenang. "Napa lu?" Potong Dasa merasuki lamunan dan membuyarkan pemikiran gila ku.
"Ga.. envy aja dama lu pada"

"aaaah~ guys ada yang galau niiiih" Seru Horisa yang ternyata menguping di tengah mesranya Dia dengan kekasihnya. Dasar perempuan.

"Oke, to the point aja... Uah berbulan bulan. Lepasik Ra.. Lepasin!" Dasa meniupkan kan asap rokoknya di depanku "Seperti itu~"

"Terserah lo deh" Aku kembali meratapi meja yang kosong karena pesanananku belum datang juga. "uuuiiiiik!!" Suara HP ku yang bernada angry bird itu menarik perhatian pengunjung lainnya. Aku mebuka kunci dan melihat pesan itu dari siapa. Meisy.

"kak? di cafe Panna?" lalu ku balas. "Kok Tau?"  ku hisap rokok ku perlahan. Bunyi dering HP ku menarik perhatian orang oarang kembali. "Rada di silent bisa kali Gera...." Keluh Horisa.
"Nanti aja deh" Kataku sambil mengibaskan tanganku.

"Aku juga ada disitu. Coba liat meja no 20 deh" Aku menengok ke belakang. Ada 4 orang anak dari kelas yang kulatih dulu. Ah....... Rasanya sesak amat parah melebihi dari saat pertama kali aku menghisap roko dulu. Tangan kanan Meisy memegang HP tapi tangan kirinya tergantung di bawah menggandeng tangan seorang anak laki laki sebayanya. Aku kenal.

"hmm Ra... aduuh udah liat ya.." Cela Dasa. Ternyata yang dapet sms itu bukan aku saja. Tapi begitu juga Horisa dan Dasa. 

"ya gitu deh. Gue balik ya......"
"Jangan! cancel pesenan lo. Aku abisin minum kita rame rame yuk ke mana? " Tanya Horisa. "ya ga Guys?"
Kami menghabiskan semua pesanan. Aku sengaja lewat tempat duduk Meisy hanya untuk bertegur sapa.

"Kok cepet sih kak?" Tanya Meisy.
"Euuuumm, mau main lagi. Bocah ga boleh ikut!" Kataku menyentaknya. Karena biasanya mereka selalu memaksa ikut. Dengan tawa yang juga mengiringi perkataanku sehingga tidak berat di bawanya. Ku elus kepalanya. "Yo nanti ya kalo main lagi bareng bareng pas siang aja. Oke?" 

Ku lepaskan tanganku dari tangan nya dengan harapan sisa perasaan sakitku tertinggal disana semua. Begitu juga dengan bahagia yang menyengat hati waktu dulu.

Menemani ku berteriak di cafe di daerah tinggi, billiard, bowling, dan beberapa gelas cocktail manis. Teman temannku ini memang jahat punya jahat meninggalkanku, tapi tak pernah jahat meninggalkan ku sendiri di saat suram.

Persahabatan dan Pertemanan tak bisa di gantikan dengan Cinta, tapi Cinta bisa di ganti oleh mereka. 


(Diary ku selesai disini. Kalo Aku menulis Kembali diary ku, berarti aku tlah jatuh cinta kembali. Doakan saja yaaa =)) hahah) 
Tiap detik, tiap tapakan kaki yang membekas di tanah hari berlalu begitu saja. Tak terasa. Bukan karena bahagia yang membuat ku terbang ke langit seperti biasanya. Tapi malah perasaan kelabu yang membuat pikiranku tertinggal entah dimana.

Rasanya sudah seperti tong sampah dimana semua kata manis mu di buang. Bukan karena memang dari hatimu, tapi butuhmu.

Aku mengikuti semua permainan konyol. Permainan untuk menundukan hati yang keras ini. Otakku terlalu pintar untuk menolak semua bujuk halus darimu. Menyenangkan ternyata mengikuti semua permainan itu. Karena kita memang memiliki sifat yang sama. Tapi otakku terlalu pintar untuk jujur seperti yang kau lakukan saat itu.

Hatiku memang lebih bodoh. Tanpa sadar semua kata kata mu jadi kebiasaan yang harus diterimannya di pagi hari. Percakapan lelucon gombal konyol yang selalu kita laksanakan penuh tawa yang terbahak bahak. Otakku tahu bahwa itu bukan dari hatimu yang sejujurnya, tapi hatiku ini tak mau tahu.

Otakmu juga pintar, hingga tahu dimana saat hatiku luluh. Tapi saat itu juga kau ambil keputusan sepihak yang bisa kujelaskan harusnya. Bukannya Kau tak mau dengar, tapi Kau sudah tahu dan ingin mengabaikan itu.

Otakku berkata pada sang hati "Belum terlalu sakit 'kan? Masih bisa ditahan 'kan? Jangan buat tuan kita mengelurakan air mata. Kita sudah tahu apa jadinya. Tapi memang pertahananmu selalu longgar"
Hatiku hanya diam. Dia menyusun barikade nya kembali. Memperkuat kembali pertahanannya. Meminta pada otakku untuk membantu nya lagi.

"Komitmen kita agar tidak terlalu percaya Orang Itu. Tapi kebiasaan memang susah di hapus. Bentuk kembali dirimu. Pancarkan lagi pesonamu. Kita bawa Dia agar jatuh di pertahanan ini. Tapi sebelum itu Kau harus pulih. Hanya luka kecil. Luka parah saja bisa sembuhkan 'kan? Aku akan selalu memperkuatmu. Selalu berusaha sadar aga tak ada maling masuk mencuri kamu."

Hatiku tersenyum lebar. "Kita pasangan sempurna 'kan?" Iya mereka pasangan sempurna. Otakku dan Hatiku. Aku takkan membiarkan hatiku terluka dan otakku tahu itu. Dia tidak akan mematikan logikanya. Karena mendapat penghuni yang sepmpurna dilihat oleh Logika dan Nurani. 
problematika.. mungkin bahasa yang berat. Entri yang saya buat memang kesannya selalu seenaknya saya sendiri, tidak penting, tidak tentu arahnya.

"saya terlalu baik untuk selingkuh, tapi terlalu jahat untuk setia" tiba tiba di tengah perjalanan pulang sekolah terlintas rangkaian kat absurd atau perumpamaan yang agak kasar ini di kepala saya. Kesannya plinplan memang. Tapi itulah suatu hubungan. Banyak jalannya

Menyakiti. Ini salah satu jalan yang tidak memberatkan hatimu saat melakukannya. Tapi suatu saat nanti, beberapa orang berkata mengenai kata "karma". "Kau akan merasakan karma" saya sendiri bingung apa difinisi lengkap Karma. yang pasti anda akan merasakan apa yang telah anda lakukan. Itu definisi ringan.

Disakiti. Namanya aja "DISAKITI" mana ada sih yang enak dari hal ini? mau dari awla sampai akhir ya sakit aja terus sampe mampoos~yah tidak sampai mati tentunya. Sampai anda menemukan pengganti atau obat dari hal ini dapat menyembuhkannya.

Jadi lebih memilih yang mana? "Menyakiti" atau "disakiti" semua ada resikonya. senang baiknya atau bagaimana tergantung apa yang ada.  Sekiranya entri ini masih kasar tidak jelas, tidak mengena di hati ya maafka. Saya masih belajar. Sekian Terima Kasih. Sampai Jumpa
Buat apa kamu hidup dengan umur yang panjang? Untuk menikmati perkembangan negara? Apa kau yakin negara yang Kau tinggali menjadi lebih baik? Atau untuk menikmati harta yang selama ini kau tabung? Tak ada jaminan harta itu tidak habis sebelum akhir hayat kan?

Walaupun di umur yang sudah renta badan mu masih bugar mungkin itu salah satu kesenangan nya. Tapi saat Kau sadari kini mungkin Kau hanya duduk sendiri di pekarangan rumah luas yang dulu masih bisa Kau rawat sendiri. Sekarang yang merawatnya hanya seorang tukang kabun yang terus menerus berganti. Menikmati mentari pagi dengan secangkir teh yang dibuat oleh seorang pelayan muda. Dia anak dari pelayan yang dulu. Pelayan yang dulu terlalu tua untuk menyiapkan keperluar untuk orang yang sangat tua.

lalu terdengar suara telpon. Kau yang masih cukup bugar di umur panjang mu itu menuju tempat telpon itu sendiri. Kedalam rumah. Sebugar apapun itu badanmu, Kau sudah tak bisa mengangkat telpon di dering ketiga. Dering kelima adalah catatan rekor terbaikmu saat ini.

Suara di balik telpon itu sendu. Tapi masih muda dan cukup segar. Kau sedikit terkejut dengan sebuah kabar bahwa seorang teman baikmu akhirnya pergi untuk selamanya lebih dulu kembali. Kau sudah tak aneh mendengar kabar itu. Karena hampir tiap minggu Kau mendengar kabar seperti itu. Tapi air mata tetap mengalir karena mengingat kenangan bersama sahabatmu yang berjanji akan pergi bersamamu.

Telpon ditutup. Berjalan mengitari rumah menuju pekarangan kembali. Di sekitar dinding rumah banyak foto terpampang. Dari anak, cucu, bahkan cicit mu. Sebuah foto membuat mu merasa kesepian. Bagaimana rasanya megingat seorang anak yang dulu Kau gendong tinggi kelangit sekarang sudah ditanah, kembali ke asalnya lebih dulu dari mu.

Seseorang datang dengan mobil. Saat kau melihat keluar ternyata itu cucu mu yang membawa mobil bersama cicit mu yang masih belum mengingat. Dan terakhir adalah anakmu yang sekarang rasanya lucu melihatnya.
Saat kau duduk bersama anakmu rasanya sudahterlihat bersama teman. Rambut putih, kulit yang sudah elastis lagi. dan gigi palsu yang hampir lepas saat memakan camilan.

Saat malam semua tamu telah pergi. Rumah kembali sepi. Melihat banyak foto di dindingyang orang nya sudah pergi selamanya. Rindu yang sudah tak dapat ditahan lagi adalah rindu saat melihat foto pasangan mu sedang bersanding berdua di pelaminan. Satu yang terpikir olehmu "Aku sudah tak mau mengantar orang ke tempat istirahat terakhirnya lagi" tapi takdir berkata Kau harus lakukan itu. Menerima rasa kesepian bahkan senang yang mungkin lebih sedikit.

Mengenai Saya

Foto saya
Since 1996 Delusional
Tasa Sri Inten Puspitasari. Diberdayakan oleh Blogger.

Followers

Berbagi lah disini

Pengikut