Mungkin bodoh rasanya saat ini. Sudah berbulan bulan berlalu sejak hubungan kerja tempat dimana Meisy berakhir. Horisa melanjutkan sekolahnya seperti biasa kembali... Dasa mendapatkan ijazah kelulusannya sebulan lalu. Acara makan makan sederhana hari itu lah yang menyenangkan berubah menjadi menyebalkan sekaligus.

Ditengah acara pesta aku mulai merasakan perasaan yang menyebalkan. Ku usap dadaku dan menarik nafas panjang. Malam minggu walau single tetep menyenangkan kok. Walau diantara 7 orang ini yang tak membawa pasangannya hanya aku seorang. 

Meratapi kopi yang kupesan dari tadi. Mungkin dengan kopi pikirannku bisa sedikit tenang. "Napa lu?" Potong Dasa merasuki lamunan dan membuyarkan pemikiran gila ku.
"Ga.. envy aja dama lu pada"

"aaaah~ guys ada yang galau niiiih" Seru Horisa yang ternyata menguping di tengah mesranya Dia dengan kekasihnya. Dasar perempuan.

"Oke, to the point aja... Uah berbulan bulan. Lepasik Ra.. Lepasin!" Dasa meniupkan kan asap rokoknya di depanku "Seperti itu~"

"Terserah lo deh" Aku kembali meratapi meja yang kosong karena pesanananku belum datang juga. "uuuiiiiik!!" Suara HP ku yang bernada angry bird itu menarik perhatian pengunjung lainnya. Aku mebuka kunci dan melihat pesan itu dari siapa. Meisy.

"kak? di cafe Panna?" lalu ku balas. "Kok Tau?"  ku hisap rokok ku perlahan. Bunyi dering HP ku menarik perhatian orang oarang kembali. "Rada di silent bisa kali Gera...." Keluh Horisa.
"Nanti aja deh" Kataku sambil mengibaskan tanganku.

"Aku juga ada disitu. Coba liat meja no 20 deh" Aku menengok ke belakang. Ada 4 orang anak dari kelas yang kulatih dulu. Ah....... Rasanya sesak amat parah melebihi dari saat pertama kali aku menghisap roko dulu. Tangan kanan Meisy memegang HP tapi tangan kirinya tergantung di bawah menggandeng tangan seorang anak laki laki sebayanya. Aku kenal.

"hmm Ra... aduuh udah liat ya.." Cela Dasa. Ternyata yang dapet sms itu bukan aku saja. Tapi begitu juga Horisa dan Dasa. 

"ya gitu deh. Gue balik ya......"
"Jangan! cancel pesenan lo. Aku abisin minum kita rame rame yuk ke mana? " Tanya Horisa. "ya ga Guys?"
Kami menghabiskan semua pesanan. Aku sengaja lewat tempat duduk Meisy hanya untuk bertegur sapa.

"Kok cepet sih kak?" Tanya Meisy.
"Euuuumm, mau main lagi. Bocah ga boleh ikut!" Kataku menyentaknya. Karena biasanya mereka selalu memaksa ikut. Dengan tawa yang juga mengiringi perkataanku sehingga tidak berat di bawanya. Ku elus kepalanya. "Yo nanti ya kalo main lagi bareng bareng pas siang aja. Oke?" 

Ku lepaskan tanganku dari tangan nya dengan harapan sisa perasaan sakitku tertinggal disana semua. Begitu juga dengan bahagia yang menyengat hati waktu dulu.

Menemani ku berteriak di cafe di daerah tinggi, billiard, bowling, dan beberapa gelas cocktail manis. Teman temannku ini memang jahat punya jahat meninggalkanku, tapi tak pernah jahat meninggalkan ku sendiri di saat suram.

Persahabatan dan Pertemanan tak bisa di gantikan dengan Cinta, tapi Cinta bisa di ganti oleh mereka. 


(Diary ku selesai disini. Kalo Aku menulis Kembali diary ku, berarti aku tlah jatuh cinta kembali. Doakan saja yaaa =)) hahah) 
Tiap detik, tiap tapakan kaki yang membekas di tanah hari berlalu begitu saja. Tak terasa. Bukan karena bahagia yang membuat ku terbang ke langit seperti biasanya. Tapi malah perasaan kelabu yang membuat pikiranku tertinggal entah dimana.

Rasanya sudah seperti tong sampah dimana semua kata manis mu di buang. Bukan karena memang dari hatimu, tapi butuhmu.

Aku mengikuti semua permainan konyol. Permainan untuk menundukan hati yang keras ini. Otakku terlalu pintar untuk menolak semua bujuk halus darimu. Menyenangkan ternyata mengikuti semua permainan itu. Karena kita memang memiliki sifat yang sama. Tapi otakku terlalu pintar untuk jujur seperti yang kau lakukan saat itu.

Hatiku memang lebih bodoh. Tanpa sadar semua kata kata mu jadi kebiasaan yang harus diterimannya di pagi hari. Percakapan lelucon gombal konyol yang selalu kita laksanakan penuh tawa yang terbahak bahak. Otakku tahu bahwa itu bukan dari hatimu yang sejujurnya, tapi hatiku ini tak mau tahu.

Otakmu juga pintar, hingga tahu dimana saat hatiku luluh. Tapi saat itu juga kau ambil keputusan sepihak yang bisa kujelaskan harusnya. Bukannya Kau tak mau dengar, tapi Kau sudah tahu dan ingin mengabaikan itu.

Otakku berkata pada sang hati "Belum terlalu sakit 'kan? Masih bisa ditahan 'kan? Jangan buat tuan kita mengelurakan air mata. Kita sudah tahu apa jadinya. Tapi memang pertahananmu selalu longgar"
Hatiku hanya diam. Dia menyusun barikade nya kembali. Memperkuat kembali pertahanannya. Meminta pada otakku untuk membantu nya lagi.

"Komitmen kita agar tidak terlalu percaya Orang Itu. Tapi kebiasaan memang susah di hapus. Bentuk kembali dirimu. Pancarkan lagi pesonamu. Kita bawa Dia agar jatuh di pertahanan ini. Tapi sebelum itu Kau harus pulih. Hanya luka kecil. Luka parah saja bisa sembuhkan 'kan? Aku akan selalu memperkuatmu. Selalu berusaha sadar aga tak ada maling masuk mencuri kamu."

Hatiku tersenyum lebar. "Kita pasangan sempurna 'kan?" Iya mereka pasangan sempurna. Otakku dan Hatiku. Aku takkan membiarkan hatiku terluka dan otakku tahu itu. Dia tidak akan mematikan logikanya. Karena mendapat penghuni yang sepmpurna dilihat oleh Logika dan Nurani. 
problematika.. mungkin bahasa yang berat. Entri yang saya buat memang kesannya selalu seenaknya saya sendiri, tidak penting, tidak tentu arahnya.

"saya terlalu baik untuk selingkuh, tapi terlalu jahat untuk setia" tiba tiba di tengah perjalanan pulang sekolah terlintas rangkaian kat absurd atau perumpamaan yang agak kasar ini di kepala saya. Kesannya plinplan memang. Tapi itulah suatu hubungan. Banyak jalannya

Menyakiti. Ini salah satu jalan yang tidak memberatkan hatimu saat melakukannya. Tapi suatu saat nanti, beberapa orang berkata mengenai kata "karma". "Kau akan merasakan karma" saya sendiri bingung apa difinisi lengkap Karma. yang pasti anda akan merasakan apa yang telah anda lakukan. Itu definisi ringan.

Disakiti. Namanya aja "DISAKITI" mana ada sih yang enak dari hal ini? mau dari awla sampai akhir ya sakit aja terus sampe mampoos~yah tidak sampai mati tentunya. Sampai anda menemukan pengganti atau obat dari hal ini dapat menyembuhkannya.

Jadi lebih memilih yang mana? "Menyakiti" atau "disakiti" semua ada resikonya. senang baiknya atau bagaimana tergantung apa yang ada.  Sekiranya entri ini masih kasar tidak jelas, tidak mengena di hati ya maafka. Saya masih belajar. Sekian Terima Kasih. Sampai Jumpa
Buat apa kamu hidup dengan umur yang panjang? Untuk menikmati perkembangan negara? Apa kau yakin negara yang Kau tinggali menjadi lebih baik? Atau untuk menikmati harta yang selama ini kau tabung? Tak ada jaminan harta itu tidak habis sebelum akhir hayat kan?

Walaupun di umur yang sudah renta badan mu masih bugar mungkin itu salah satu kesenangan nya. Tapi saat Kau sadari kini mungkin Kau hanya duduk sendiri di pekarangan rumah luas yang dulu masih bisa Kau rawat sendiri. Sekarang yang merawatnya hanya seorang tukang kabun yang terus menerus berganti. Menikmati mentari pagi dengan secangkir teh yang dibuat oleh seorang pelayan muda. Dia anak dari pelayan yang dulu. Pelayan yang dulu terlalu tua untuk menyiapkan keperluar untuk orang yang sangat tua.

lalu terdengar suara telpon. Kau yang masih cukup bugar di umur panjang mu itu menuju tempat telpon itu sendiri. Kedalam rumah. Sebugar apapun itu badanmu, Kau sudah tak bisa mengangkat telpon di dering ketiga. Dering kelima adalah catatan rekor terbaikmu saat ini.

Suara di balik telpon itu sendu. Tapi masih muda dan cukup segar. Kau sedikit terkejut dengan sebuah kabar bahwa seorang teman baikmu akhirnya pergi untuk selamanya lebih dulu kembali. Kau sudah tak aneh mendengar kabar itu. Karena hampir tiap minggu Kau mendengar kabar seperti itu. Tapi air mata tetap mengalir karena mengingat kenangan bersama sahabatmu yang berjanji akan pergi bersamamu.

Telpon ditutup. Berjalan mengitari rumah menuju pekarangan kembali. Di sekitar dinding rumah banyak foto terpampang. Dari anak, cucu, bahkan cicit mu. Sebuah foto membuat mu merasa kesepian. Bagaimana rasanya megingat seorang anak yang dulu Kau gendong tinggi kelangit sekarang sudah ditanah, kembali ke asalnya lebih dulu dari mu.

Seseorang datang dengan mobil. Saat kau melihat keluar ternyata itu cucu mu yang membawa mobil bersama cicit mu yang masih belum mengingat. Dan terakhir adalah anakmu yang sekarang rasanya lucu melihatnya.
Saat kau duduk bersama anakmu rasanya sudahterlihat bersama teman. Rambut putih, kulit yang sudah elastis lagi. dan gigi palsu yang hampir lepas saat memakan camilan.

Saat malam semua tamu telah pergi. Rumah kembali sepi. Melihat banyak foto di dindingyang orang nya sudah pergi selamanya. Rindu yang sudah tak dapat ditahan lagi adalah rindu saat melihat foto pasangan mu sedang bersanding berdua di pelaminan. Satu yang terpikir olehmu "Aku sudah tak mau mengantar orang ke tempat istirahat terakhirnya lagi" tapi takdir berkata Kau harus lakukan itu. Menerima rasa kesepian bahkan senang yang mungkin lebih sedikit.

Selalu. Entah mungkin sudah beribu kali ini terjadi. Selalu saja Kau datang di saat yang tepat.
Entah itu bagaimana caranya, tapi memaang di saat yang tepat. Seperti Tuhan tak mengizinkan aku untuk mencari cinta yang baru, Kau selalu datang. Menghancurkan benih yang mulai tumbuh menjadi kecambah cinta kecil yang rapuh. Kau seperti akar pohon kuat yang menjalar dan hancurkan akar cinta rapuh itu. membuatku selalu melihatmu kembali.
Aku lelah berbahasa puitis. "Kau" yang kumaksud dalam post ini adalah seseorang "Idiot yang selalu dengan suksesnya membuat Aku stay-cool di status jomblo" entah saking idiot-nya atau saking kuat feeling-nya hingga Dia mampu berbuat demikian.
Dia bukan milik aku, dia itu tuh milik orang lain. kadang aku risih juga lahya...kalo dia memperlakukan aku seperti yang aku mau. Bagaiman dengan sesorang sang pemilik hati itu? hancur? pasrah? ga mungkin. Pasti aku kena sesuatu hal buruknya.
Si idiot jenius membuat saya selalu kepikiran. Padahal sebetulnya banyak yang lain yang lebih pantas dipikirkan. Tapi inilah keadaanya. FRONTALNYA! Disaat Aku mulai menyayangi (cie menyayangi ) orang lain.  Dia datang, dengan semua harapan kosong yang aku ketahui bahwa itu harapan kosong~ tapi tetap aku harapkan kedatangannya. Pokoknya si Idiot Jenius  ini menybalkan.



Entah sudah hari keberapa aku melamun di dalam tempat makan ini. Disini sejenis cafe, diarea merokok aku duduk menunggu temanku. Dia juga sama, teman yang berkerja atas permintaan Dasa. Pembimbing untuk perlombaan design grafis di sekolah itu. Agak aneh ya memang, sekolah lain memakai jenis hal praktek seperti kesenian yang dapat langsung dipraktikan. Ini malah hal yang proses keseluruhannya di balik layar. Memang sih sekolah ini memiliki program life skill wajib yang program design nya cukup maju di banding sekolah lainnya. Ya aku lihat sih, kemampuan mereka yang mengambil program design ini kemampuannya cukup diancungkan jempol. Kalau dulu waktu SMA aku sekolah disana, mungkin kuliah ini aku akan ambil jurusan Design Grafis bukan Pertambangan..... 

Membahas hal itu sekarang mungkin tak berguna bagiku. Karena aku sangat bersyukur karena adanya acara itu, Dasa yang memberikan perkerjaan ini, dan pertemuan singkatku dengan….oh ya..when the first time i saw her..uhyuh, bahasa Inggris kan jelek.Ya~sejak hari itu kalo mengingat ini rasanya ‘nyesek’ ha..ha rasanya udah gabisa ketawa. Sangat renyah rasa tawa ini.
Matahari menembus kaca, cahayanya sudah mulai jingga, sudah sore tapi Horisa belum datang. Ya ampun rokok sudah mulai habis. Kopi sudah mau habis juga. Pesan lagi mungkin ide yang cukup baik. Untuk besok makan siang, bayar gimana ya? Coba Meisy disini, Aku tidak akan butuh secangkir kopi lagi.
Meisy…Meisy..dan Meisy. Payah. Otakku payah.
Benar, sebaiknya aku pesan secangkir kopi lagi.
 “Ra!” Baru tangan hendak melambai palayan tapi ada yang menyapa di pintu masuk smoking area. Aku menoleh, tangan yang sudah hampir terangkat tadi berbalik melambai pada arah suara itu.
“Yo!”
“Udah lama?” Ternyata cewek tuh seperti ini ya.. lama..”Jangan mikir aku lama karena aku cewe” Rambut Horisa itu panjang, lurus sepunggung. Kulitnya coklat, badannya kurus. Anaknya periang, sangat periang. Mungkin tepatnya hiperaktif.
“Yeeeh Ris, tenang aja aku masih inget kamu bukan cewe biasa~haha” Kenapa tawa ku begitu renyah. Mungkin aku butuh kopi “Mas!” Kupanggil pegawai café. “Pesan Espresso nya satu ya”
“Pesan lagi? Tumben lho..biasanya satu cukup”  Horisa mengeluarkan sebatang permen lollipop dari tas selempang nya “Mau?” Aku hanya menggeleng atas tawarannya. Permen ga cukup nih kayaknya. “Masih mikirin feeling gila kamu itu?” Lanjut Horisa.
Aku hanya terus terdiam memandang keluar. Kearah parkiran dimana motor ku di parkir. Kemarin aku mengantar Meisy pulang dengan motor itu..singkat sekali rasanya. Memang rumahnya dekat sama sekolanya sih. Jadi aku harus berharap apa? Membawa Dia pulang ke rumahku? Mungkin Aku gila sekarang. Itu sih sama saja dengan menculik. Rasanya kepala ini penuh dan tangan otomatis memijat pelipis kepala. “Ra!”
“Hah? Oh iya. Emang kayaknya Aku benar benar gila sekarang.”
“Ra, mau gimana juga, mau Meisy bener suka sama Dasa kata kamu —perasaang kamu—tepatnya. Tetap ga akan kenapa-napa. Ya paling sih ya, kamu di tolak. Tapi setidaknya tidak sampai patah hati  karena Meisy jadian dengan Dasa.”
“Oh my God. Horisa teman baikku yang paling baik.. Berapa kali sih seperti ini? Barus sekali?”Tanya ku emosi pada Horisa. Ya, ini bukan pertama kalinya gadis yang aku suka melirik Dasa. Tapi yang sebelumnya memang tak seperti ini. Rasa suka Aku tidak sebesar ini. Horisa mengeluarkan Lolipop dari mulutnya da baru mulai bicara.
“Gera teman lamaku yang paling setia. Buka mata aja dehya~ kamu tahu kan,tampang Dasa tuh lebih….” Mulut Horisa seperti mulai tercekat sesuatu.  Waktu itu Dia pernah mengucapkan hal itu. Ya~ bahwa Dasa lebih Ganteng dari pada aku. “Sorry, Ra”
“Aku tahu.. sering banget denger kok. Ya, kalo lagi main kita bertiga emang sering ngomong begitu. Tapi pas lagi main bukan pas lagi serius gini sih…”Aku mengalihkan pandangan dari Horisa ke arah jendela. Horisa merasa sangat bersalah, Dia hanya diam. Pelayan mengantar kopi yang kupesan. Horisa memesan selagi bisa, hmm capucinno, kesukaannya.
Sial, kok jadi diem begini. “Ra, bener loh ya, Aku ga maksud. Jangan marah ya?" kesunyian terjadi sejenak. "Ra, aku gabawa uang nih..hehe"
“Kebiasaan kamu Ris morotin aku selalu” Horisa tersenyum. Melanjutkan mengulum permen Loli nya itu. Cangkir kopi yang lama sudah diangkat tadi. Tinggal cangkir yang masih penuh ini sekarang. Kupandangi kopi itu warnanya cukup pekat dari biasanya. Sepekat hati ku sekarang ini. Ya Tuhan, itu kata kata indah yang berumpamakan sesuatu yang kelam, sekalam hatiku. Haaah, kuhela nafas ini. Mau berapa kali aku mengumpamakan sesuatu seperti itu.
Kuminum perlahan kopi ini. Yaw! Pahit nya. Mungkin kalo nanti ditolak Meisy rasanya seperti ini. Aku sendiri tidak yakin ditolak rasanya pahit. “Ra..mau pulang jam berapa?”
“hmm?” Kutaruk cangkir kopi perlahan. Kurang lengkap ya minum kopi ga ada rokok. “Habisin dulu ya? Tapi minta bill sekarang aja”
Horisa memanggil pelan pelayang yang sedang melayani pelanggan di meja sebelah. Kusibak rambut yang mulai terasa lengket di kepala. Rambutku sepertinya harus di rapihkan. Rambut Meisy itu lurus, sebahu, lembut aga kecoklatan. Beda banget sama Aku; ikal, berantakan, kasar, hitam.
Terbayang tiba tiba Meisy berjalan bersama Dasa. Parah, cocok sekalit. Pikirku, Kepala ku bergoyang untuk membuyarkan pikiran. Hal itu sepertinya tak perlu. Tapi memang hanya bahasa tubuh manusia yang alami tanpa harus dipikirkan. Tiba tiba panggilan Horisa membantu membuyarkan semua pikiran gila  itu “Nih, bill~”
Horisa senyum senyum. Itu tanda bahwa dia meminta aku membayarkan secangkir kopi nya. Besok aku makan siang gimana ya….tapi buat teman yang menemani satu jam berkualitas penuh kegalauan di senja jingga ini mungkin ini bayaran yang tepat.
Kukeluarkan dompet dari saku celana belakang. Kenapa lelaki suka menaruh dompet dibelakang? Dua lembar pecahan lima puluh ribu rupiah kulepas pergi dari rumahnya. Tak ada uang pas. Fyuuh, masih bisa buat makan siang besok. Untung sekarang akhir bulan. Horisa memberi uang itu pada sang pelayan.
Kulihat sekeliling café, jam segini café lagi penuh penuh nya. Sejam lagi ada band akustik yang biasa tampil. Tapi pulang dan menjatuhkan diri ke kasur, kepala ku rasanya benar benar pening. Lagian Horisa ga boleh pulang malam. Setidaknya Horisa bisa pulang sendiri. Kalo Meisy pasti aku antar pulang deh.
Horisa mulai beranjak dari kursinya. “Gera, ayoo puuulaaang~”
“Itu, Hape gimana Ris?” Selalu. Horisa selalu lupa memeriksa barangnya kembali. Kuambil HandPhone nya dan memasukkannya langsung kedalam tas miliknya.
“Hehe..thanks,Ra”
Jalan keluar melewati pintu smoking area. Kalo nanti ajak Meisy kesini harus duduk dimana? Tempat kesukaanku di tempat tadi. Tapi, kalau ternyata tidak kuat rokok bagaimana. Hari sudah mulai gelap. Langit mulai berwarna biru tua. Selamat Tinggal Senja Jingga. Hari ini aku sudah galau bersamamu.

TTD: Gera. Mungkin pemikiran gila ku selalu membuatku galau
  

Matanya hanya tertuju padanya. Membuat hati ini menjadi panas tak karuan. Sebetulnya apa yang di lihat Gadis itu? kalau kau serius mau tahu akan kuberi tahu dengan senang hati. Dia sedang melihat seorang pria. Dengan tatapan berbinar yang hanya bisa menysesakan hatiku. Gadis yang mulai kutaksir beberapa bulan ini benar benar bisa membuat membuat aku pusing. Padahal kekasih ku yang dulu saja tidak begini…
            Aku bertemu dengannya karena sebuah acara yang dibuat oleh temanku ini. Katanya yah kerjaan begitu. Membuat project design kan ga buruk juga buat nambah pengalaman di luar jalur akademik yang aku pilih. Yah, katanya yang ngajak nya berkerja sama ini masih SMA, lebih muda berarti daripada aku. Semoga ga susah ya kerjasama sama yang lebih muda. Sebetulnya bukan masalah karena sudah biasa kalau anak SMA sekolah lain, tapi special sekolah ini, sedikit banyak punya catatan criminal. Semoga anak anak ini baik baik.
            Hari ketemu sudah tiba. Yang datang menjemput kami di gerbang sekolah mereka sekumpulan gadis SMA. Jadi aku harus bilang WOW? Engga karena mereka biasa aja. Ga dandan aneh aneh seperti rok mini atau apa. NORMAL. Tapi engga samayang satu ini, Dia yang salaman paling belakangan. Kalian harus bilang WOW! Aku tahu langsung ada yang beda sama anak ini. Mukanya imut kelihatan lebih muda dari umurnya, yah seperti teman saya yang satu ini. Ada lagi yang beda, tapi belum tau apa.
            “Di dalem aja “ kata Gadis itu. Tadi memperkenalkan namanya. Ternyata namanya unik seperti wajahnya “Meisy” Seperti nama di novel gitu.
            Sesudah rapat sama Dia dan teman temannya semuanya bubar. Di ruangan tinggal Aku, Dasa teman saya imut ini (lebih tua 2 tahun dariku), dan Meisy.
            “eh tadi siapa namanya?” Tanya Dasa langsung. Wah, Das…udah punya pacar kok…
“Meisy”
“rumah dimana?” entah kenapa langsung kesal aku. Tahan tahan.. yah ga aneh kalo Dasa mau cari cewe lagi, toh bosan karena pacaran kelamaan kan tidak aneh.
“deket SMKN’X’ kak” ya Tuhan. Kayaknya dia mulai tertari sama Dasa. Emang sih dari tadi dia Cuma melamun aja pas lagi ngobrol sambil liatin Dasa. Please Das, yang ini jangan diambil. Hati udah teriak teriak sendiri. Berasa orang lain juga akan dengar.
“Tuh, Ger… deket!” aku langsung tersentak. Ternyata Dasa bukan mau deketin, tapi bantuin aku. Dia emang paling tahu kalu aku pemalu….*cuih*
“minta makan yuk Das?” Yaaah, beginilah nasib orang yang kaget. Asal ngomong. Kenapa ga ngomong anter pulang gitu?
“ga ada orang dirumah. Kapan kapan ya, kakak kakak” sambil senyum. Oh My GOD jantung seperti mau lepas.
Yaah tapi itu sekitar perkenalan awal yang manis. Belum ada pahit nya. Sekarang ternyata saya tahu. Meisy sangat suka nyimpen masalah, tega-an, dan jujur. Kenapa aku bilang jujur? Karena matanya berbicara segalanya. Kalo Dia liat mata saya dia Cuma sekedar merasa aman. Matanya ga berbinar.
Tapi begitu liat Dasa datang setiap pertemuan, rasanya dia seperti pelari yang melihat garis finish. WUUUSH~ berlari cepat kearah Dasa. Matanya saat berbicara sama aku penuh canda tawa, harusnya aku seneng. Tapi kalo liat dia ngobrol ke Dasa penuh dengan canda dan harapan itu tuh JLEB. Yang lebih sedih lagi kalau ni cewe yang aduh gabisa diungkapin sama kata kata ini kena Harapan Kosong atau sebutan kece-nya HARKOS.
Yah sekian. Aku Gera (telat woooy!) akan melanjutkan cerita. Pokoknya kalo nanti akhirnya mau bagus atau jelek kalian harus salto bilang woow (ttd:Gera)

By: Tasa

Mengenai Saya

Foto saya
Since 1996 Delusional
Tasa Sri Inten Puspitasari. Diberdayakan oleh Blogger.

Followers

Berbagi lah disini

Pengikut